Pematangsiantar, Samuderausi.com
Hujan rintik-rintik baru saja mereda di Jalan Siantar Timur No. 34, Kelurahan Siopat Suhu, Kota Pematangsiantar. Bersamaan itu, suara parau seorang perempuan sepuh memecah sore menjelang senja yang diselimuti mendung, Sabtu (22/11/2025).
Di teras rumah berdinding beton yang mulai dimakan usia itu, Opung Raminah Garingging (92 tahun) duduk di kursi plastik hijau mengenakan sarung. Matanya menatap jauh seakan menembus gulungan waktu yang tak lagi bisa diukur. Sang Maestro Tradisi Seni Simalungun yang pernah mendapatkan anugerah Kebudayaan Indonesia pada tahun 2023 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini, berkisah tentang: Merajut Jejak Tuan Rondahaim”
“Opung Rondahaim… dia itu bukan hanya panglima,” gumamnya pelan sembari memulai kisahnya dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa Simalungun. “Opung itu punya keberanian yang tak pernah padam demi mempertakankan wilayah Kerajaan Raya. Dan sampai Opung Rondahaim wafat, Belanda memang tidak pernah berhasil menguasai Raya,”ujarnya mantap sembari terus melanjutkan narasi kisahnya.
Beberapa hari sebelumnya, kabar penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim sampai ke telinganya. Namun bagi Opung Raminah, kisah itu bukan kabar baru. Sebab kisah itu merupakan ingatan hidup yang diwariskan dari keluarga kakek buyutnya, ingatan yang tetap menyala meski tubuhnya terus menua. Sore itu pula, di teras sederhana rumahnya, sejarah yang lama berdiam dalam cerita lisan seakan kembali menemukan suaranya.
Opung Raminah sendiri aktif memperjuangkan Tuan Rondahaim menjadi pahlawan nasional melalui pementasan teater tradisional Simalungun. Tercatat ada tiga kali Opung Raminah menampilkan drama kisah Raja Raya, Tuan Rondahaim. “Pernah di Lapangan SMA 2 tahun 2015, di Museum Simalungun tahun 2016, bahkan di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta tahun 2017 kalau gak salah,”katanya mengenang.
Suasana berubah syahdu ketika Sultan Saragih, pegiat budaya yang juga pemimpin Sanggar Rayantara mendadak muncul ke teras. Ia tampil memukau, mengenakan pakaian serba hitam, khas dihar (silat) Simalungun lewat performance art ‘dihar begu’ yang menceritakan perlawanan Tuan Rondahaim.
Alunan musik tortor dan gondrang Simalungun mengalir lirih perlahan, membawa gerakan tubuh Sultan yang pelan namun tegas. Gerakannya yang penuh makna, seperti mengikuti detak ingatan kolektif masyarakat Simalungun ke masa lalu. Gerakan itu seperti menjadi penghormatan bagi kepahlawanan Tuan Rondahaim. Apalagi selama ini kisah itu lebih sering dirayakan dalam memori komunitas atau keluarga daripada dalam panggung resmi negara.
Sesaat kemudian, ‘panggung kecil’ di teras seolah berubah menjadi ruang drama sejarah kepahlawanan. Rosari Purba dan Desti Sinaga berdiri mantap bersebelahan. Keduanya secara bergantian, memulai dramatic reading. Kisahnya tentang Tuan Rondahaim dengan suara yang ritmis, dalam, dan bergetar. Kata-kata yang mereka lantunkan menembus lembab udara sore, menghidupkan kembali suasana konflik yang pernah menggelegak di tanah Simalungun. Kisah ini disadur dari buku berjudul “Napoleon der Bataks: Kisah Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Melawan Belanda di Sumatera Timur 1828-1891”.
Penerbitan buku ini difasilitasi oleh Bupati Simalungun ketika itu, Dr. J.R. Saragih dan merupakan terbitan bersama antara Universitas Efarina Pematang Raya dengan Universitas Sumatera Utara Medan tahun 2013. Penulisnya: Prof. Dr. Erika Revida Saragih; Dr. Budi Agustono; Dr. Suprayitno, Pdt. Juandaha Purba, MTh dan Heristina Dewi, MPd.
Penonton pun tampak terkesima, merenungkan kata demi kata yang dilantunkan Rosari dan Desti tentang kegigihan Rondahaim melawan Belanda. Seolah menerawang ke masa silam, penonton diajak kian menyelami betapa gigihnya pasukan Rondahaim saat berperang melawan pasukan kolonial.
Di sela-sela bacaan kisahnya, Sultan kembali masuk ke adegan berikutnya. Kali ini dengan wujud yang berbeda. Ia mengenakan seragam ala prajurit kolonial lengkap dengan topi marsose, jaket tebal, dan sepucuk bedil khas pasukan Belanda yang disandang di badan. Dari cara ia berdiri tegap dan sorot matanya yang tajam, ia menjelma menjadi seorang opsir Belanda yang tengah membuat laporan resmi ke Residen Sumatera Timur.
Suaranya lantang, menyerupai gaya militer Belanda masa itu: “Pasukan Tuan Rondahaim telah bergerak menyerang pos penjagaan di perbatasan Simalungun dan Tebing. Mereka bergerak cepat, tanpa bisa kami bendung!”
Adegan itu menciptakan benturan emosional yang kuat: di satu sisi, ingatan Opung Raminah tentang Rondahaim sebagai simbol keberanian; di sisi lain, representasi kekuasaan kolonial yang menggambarkan bagaimana keberanian itu dipandang sebagai ancaman. Dramatic reading dan performance art berkelindan, membentuk ruang naratif yang menghidupkan kembali ketegangan sejarah. Opung Raminah, tampak serius mengamati setiap gerak dan lakon yang diperankan Sultan serta dua pelaku dramatic reading.
Di antara embun yang masih menempel di dedaunan, senja yang makin meredup, dan aroma tanah basah yang naik ke permukaan, momen kecil yang dimainkan di teras itu terasa seperti ritual sunyi. Sebuah cara Sanggar Budaya Rayantara, mengenang seorang pahlawan yang perjuangannya baru diakui negara, tetapi telah lama hidup dalam cerita, emosi, dan ingatan masyarakat Simalungun.
Selamat atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Tuan Rondahaim Garingging oleh Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, 10 November 2025. (Jalatua)
