Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen terkait kasus mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein, yang dikenal sebagai Epstein Files. Jaksa Agung AS Todd Blanche sebelumnya mengumumkan bahwa sekitar tiga juta halaman dokumen akan dibuka ke publik, termasuk lebih dari 2.000 video dan 180.000 gambar.
Blanche menegaskan bahwa rilis tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan dan menepis tudingan adanya upaya perlindungan terhadap tokoh tertentu.
“Ya, dapat saya pastikan bahwa kami mematuhi peraturan perundang-undangan, kami mematuhi Undang-Undang tersebut, dan kami tidak melindungi Presiden Trump, kami tidak melindungi siapa pun,” kata Blanche dalam konferensi pers, Jumat, 30 Januari 2026.
(Sumber: antaranews.com)
Jeffrey Epstein pada 2019 didakwa di pengadilan Amerika Serikat atas kasus perdagangan seks anak di bawah umur dan konspirasi untuk melakukan kejahatan tersebut. Ia terancam hukuman penjara lebih dari 40 tahun, namun meninggal dunia di sel tahanan sebelum proses hukum rampung.
Menurut jaksa penuntut, sejak 2002 hingga 2005 Epstein melakukan hubungan seksual dengan puluhan gadis di bawah umur yang didatangkan ke kediamannya di New York dan Florida.
Dampak rilis dokumen ini meluas hingga ke Eropa. Otoritas kejahatan ekonomi Norwegia (Oekokrim) membuka penyelidikan terhadap Thorbjørn Jagland, mantan Perdana Menteri Norwegia sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Dewan Eropa.
Direktur Oekokrim Paal Løseth menyatakan bahwa penyelidikan dilakukan berdasarkan informasi yang muncul dalam berkas Epstein yang baru dirilis.
“Kami menilai ada alasan yang masuk akal untuk melakukan penyelidikan, mengingat ia memegang posisi ketua Komite Nobel dan Sekretaris Jenderal Dewan Eropa selama periode yang tercakup dalam dokumen yang dirilis,” ujar Løseth.
(Sumber: Reuters.com)
Kepolisian Norwegia juga meminta pencabutan kekebalan hukum Jagland sebagai mantan kepala organisasi internasional. Permintaan tersebut disetujui oleh Kementerian Luar Negeri Norwegia.
“Penting agar fakta-fakta kasus ini diungkapkan,” kata Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide.
“Oleh karena itu, saya telah memutuskan bahwa Norwegia akan mengajukan proposal kepada Komite Menteri Dewan Eropa agar kekebalan Jagland dicabut,” tambahnya.
(Sumber: Reuters.com)
Jagland menjadi salah satu dari beberapa tokoh publik Norwegia yang kembali disorot akibat hubungannya dengan Epstein. Tokoh lainnya adalah Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit, yang mengakui kesalahan penilaiannya karena tetap menjalin hubungan setelah Epstein dinyatakan bersalah.
Di Inggris, Ben Wegg-Prosser, mantan ajudan Downing Street No. 10, mengundurkan diri sebagai kepala eksekutif firma lobi Global Counsel yang ia dirikan bersama Peter Mandelson. Pengunduran diri itu terjadi setelah email-email dalam Epstein Files mengungkap keterlibatan Epstein dalam pendirian perusahaan tersebut pada 2010.
Sementara itu, Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit kembali menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Saya juga meminta maaf atas situasi yang telah saya timbulkan pada keluarga kerajaan, terutama Raja dan Ratu,” kata Mette-Marit dalam pernyataan resmi istana.
(Sumber: Reuters.com)
Rilis dokumen ini juga memunculkan kembali korespondensi Epstein dengan sejumlah tokoh dunia, termasuk Bill Gates. Menanggapi hal tersebut, Melinda Gates menyatakan kesedihannya atas pengungkapan baru tersebut
“Sangat memilukan,” katanya. “Hal ini membangkitkan kenangan akan masa-masa yang sangat menyakitkan dalam pernikahan saya, tetapi saya telah melaluinya. Mereka yang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu adalah orang-orang terkait dan mantan suami saya, bukan saya.”
(Sumber: abc.net.au)
Melinda Gates sebelumnya mengatakan bahwa ia hanya pernah bertemu Epstein satu kali pada 2012 dan langsung menyesalinya.
“Dia menjijikkan. Dia adalah perwujudan kejahatan. Saya mengalami mimpi buruk karenanya,” ujarnya dalam wawancara dengan Gayle King pada 2022.
Beberapa petunjuk mengenai lingkaran pergaulan Epstein juga muncul dari kesaksian agen sastra John Brockman, yang mengaku pernah melihat Epstein bersama Pangeran Andrew saat dipijat oleh dua perempuan muda. Kisah ini disampaikan Brockman kepada penulis Evgeny Morozov.
(Sumber: abc.net.au)
Meski dokumen telah dirilis dalam jumlah besar, berbagai pihak menilai pengungkapan tersebut masih jauh dari memadai. Keterlambatan tenggat waktu dan jutaan berkas yang belum dibuka memicu kritik tajam dari pengacara korban dan organisasi masyarakat sipil.
“Pemerintah terus menghindari pertanggungjawaban dan berpendapat bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas pelecehan Epstein terhadap ratusan korban,” kata Jennifer Plotkin dari Merson Law.
(Sumber: theguardian.com)
Pengacara hak-hak perempuan Ann Olivarius menilai rilis tersebut belum menjawab pertanyaan kunci.
“Kita memiliki banyak berkas tentang kebejatan Epstein. Yang kita lewatkan adalah berkas tentang kekebalannya,” ujarnya.
(Sumber: theguardian.com)
Situs Radar Online, yang sejak 2017 mengajukan gugatan FOIA terhadap FBI, juga menyatakan bahwa jutaan catatan Epstein masih ditahan oleh Departemen Kehakiman AS.
“Kami melihat upaya sistematis untuk merusak transparansi,” kata juru bicara Radar.
(Sumber: theguardian.com)
Jennifer Freeman, pengacara korban Maria Farmer, bahkan menyebut proses pengungkapan ini sebagai salah satu kegagalan penegakan hukum terbesar dalam sejarah AS.
“Saat ini kami memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban,” katanya.
Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Jamie Raskin, menyebut situasi ini sebagai upaya penutupan kebenaran secara besar-besaran. (Rel)
Reporter: Elvira Turnip
