Simalungun, Samuderausi.com
Menjelang tengah hari, Selasa 28 April 2026, rombongan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Simalungun tiba di Simpang Tugu Perjuangan Tiga Dolok, Jalan Lintas Parapat yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Pematangsiantar. Dari titik itu, perjalanan dengan sepeda motor dan mobil menuju Situs Batu Gajah masih menyisakan sekitar 2,5 kilometer. Namun jarak pendek itu, terasa panjang bukan karena jauhnya. Melainkan kondisi jalannya yang rusak parah, meski tampak pernah diaspal.
Bebatuan tampak berserakan, lubang-lubang menganga di tengah jalan. Kondisi ini mengharuskan kendaraan bergerak perlahan dan ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Masih beruntung, saat kami datang, cuaca cerah dan panas. “Kalau saja kondisi hujan, tentu jalan ini makin sulit dilalui karena licin. Bisa jadi kami terpaksa pulang dari tengah jalan,” ujar Hebirkanta Sembiring, mahasiswa turut menginisiasi kunjungan lapangan tersebut. Apalagi, untuk mencapai lokasi dari batas jalan umum, mereka masih harus berjalan kaki sekitar 500 meter karena kendaraan tidak bisa masuk. Jalannya sebagian telah dirabat beton, menurun, berkelok, sempit dan curam. Pada di sisi kiri tampak jurang yang dalam, ditumbuhi aneka pepohonan hutan alam.
Perjalanan sulit itu seolah menjadi metafora, bahwa bergerak ‘menuju ke masa lalu’ memang tidak mudah. Penuh liku dan tantangan. Setibanya di Dusun Pamatang, Desa Nagori Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, rombongan mahasiswa menemukan situs megalitik sekaligus cerita yang masih hidup, terwariskan, dan terus berdenyut dalam ingatan kolektif masyarakat.
Bagi masyarakat setempat, akses yang buruk bukan sekadar persoalan infrastruktur. Kerusakan ini merupakan simbol keterpinggiran dan pembiaran dari pihak berkompeten.
Warga bermarga Situmorang (60) dan Sidauruk (30) mengaku amat kecewa melihat jalan menuju situs yang berstatus cagar budaya nasional ini tak kunjung diperbaiki pemerintah.
“Bagaimana mungkin situs ini bisa dikenal luas dan memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat, kalau jalannya saja sulit dilalui kendaraan?” keluh mereka saat berbincang dengan mahasiswa. Padahal, di balik jalan rusak itu tersimpan warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Secara ilmiah, Situs Batu Gajah telah lama menarik perhatian peneliti asing. Catatan kolonial Belanda sebagaimana direkam G.L. Tichelman dan P. Voorhoeve (1938) dalam buku Steenplastiek in Simalöengoen, telah menyebut keberadaan situs ini.
Berada di tengah lanskap yang diapit dua sungai: Bah Kisat dan Bah Sipinggan berdiri kokoh Situs Batu Gajah. Sebuah struktur megalitik raksasa yang tidak hanya mencuri perhatian karena bentuknya, tetapi juga karena kisah yang melekat padanya. Dalam catatan Tichelman, kompleks Batu Gajah telah dijadikan kawasan larangan (natuur monument) melalui zelfbestuur besluit nomor 18, tanggal 18 April 1924. Tujuannya, melestarikan kawasan hutan lindung yang mengelilinginya sekaligus legitimasi terhadap eksistensi Partuanon Dolok Panribuan.
Kini, situs megalitik Batu Gajah telah terdaftar sebagai cagar budaya nasional melalui Surat Keputusan: PM.88/PW.007/MKP/2011, 17 Oktober 2011. Pengelolanya sekarang adalah Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara. Situs ini diprediksi sudah ada sejak era megalitikum (zaman batu besar) dan berkaitan dengan kehidupan religius manusia prasejarah kala itu.
Kisah Puang Siboro dan Leluhur Partuanon Dolok Panribuan
Menurut Eduard Sinaga, sang Juru Pelihara Situs, Batu Gajah ini bukan sekadar batu biasa. Ia merupakan bagian dari narasi panjang tentang asal-usul Partuanon Dolok Panribuan dan leluhur mereka (marga Sinaga) yang sejak masa pra kolonial merupakan wilayah vazal Kerajaan Tanah Jawa di Kabupaten Simalungun sekarang.
Pada situs ini sebenarnya terdapat beberapa teras dan pada bagian teras bagian kelima terdapat bongkahan batu yang diyakini sebagai perwujudan makam Poeang Siboro, yang merupakan cikal-bakal leluhur penguasa partuanon Dolok Panribuan. Pada teras keenam, lokasinya agak terpisah terdapat patung harimau dan kerbau dengan kepala tertunduk. Terdapat juga dua sosok manusia yang sedang duduk di dinding batu, satu berkepala dan satu lagi tanpa kepala, serta ular dan cicak.
Di atas makam Poeang Siboro terdapat lubang untuk mempersembahkan sirih. Dahulu kala, jika uap air keluar dari lubang ini, merupakan peringatan akan adanya bencana. Setiap kali bencana, orang-orang menggelar ritual dengan mempersembahkan hewan korban yang diiringi tarian dan genderang.
Dari aspek arkeologis, situs ini diperkirakan berasal dari era megalitikum, masa ketika manusia mulai membangun struktur batu besar untuk keperluan ritual dan spiritual. Namun, para ahli juga menemukan adanya kemungkinan pengaruh budaya Hindu yang masuk ke wilayah Simalungun pada abad ke-14 hingga ke-15. Di sinilah Situs Batu Gajah menjadi makin menarik, sebab ia berdiri di persimpangan antara prasejarah, sejarah awal, dan tradisi lisan.
Simbol yang Tak Pernah Diam
Lebih dari sekadar peninggalan fisik, Batu Gajah adalah simbol. Relief dan arca (patung) yang ada di kompleks situs seperti gajah, ular, harimau, kerbau, hingga cicak, memiliki makna filosofis dalam konteks budaya Simalungun. Gajah melambangkan kekuasaan dan kebijaksanaan. Ular mencerminkan pengetahuan sekaligus kekuatan tersembunyi. Harimau menjadi simbol perlindungan dan kepemimpinan. Kerbau menggambarkan kemakmuran dan kerja keras.
Sementara cicak dipercaya sebagai penjaga rumah dan pembawa pertanda. Simbol-simbol itu menunjukkan bagaimana masyarakat masa lalu memahami dunia, tidak terpisah antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.
Dahulu, situs ini diyakini menjadi pusat ritual penting. Upacara persembahan, pemanggilan api suci, hingga ritual mambuat api bajoe dilakukan secara berkala. Namun seiring masuknya agama formal, praktik-praktik itu perlahan ditinggalkan dan hingga kini tak pernah lagi digelar. Kini, yang tersisa hanyalah ingatan sehingga generasi baru bisa mengenalnya melalui cerita yang diwariskan secara berkelanjutan.
Merawat Warisan yang Tersisa
Kunjungan mahasiswa yang didampingi Dosen Pembimbing Lapangan, Jalatua Hasugian hari itu, bukan sekadar jalan-jalan biasa. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya merawat ingatan ke masa lalu. “Dengan mencatat, merekam, mendokumentasikan dan menuliskan kembali kisah Batu Gajah, kami ingin turut serta menjaga agar sejarah lokal di Simalungun ini tidak hilang ditelan zaman. Meski kami menggunakan hasil kunjungan ini sebagai tugas mata kuliah yang akan dipresentasikan,” ungkap Jonatan Sijabat selaku ketua kelas semester enam ini.
Diakuinya, Situs Batu Gajah ini mengajarkan satu hal penting, bahwa sejarah tidak selalu tertulis di buku yang tercetak. Namun ia bisa hidup dalam cerita rakyat, termasuk dalam arca, bahkan dalam kesadaran kolektif
masyarakat. “Jika tanpa perhatian, baik dari pemerintah maupun publik, jejak itu dikhawatirkan bisa memudar dalam waktu cepat. Bahkan mungkin, suatu hari nanti, bukan hanya jalannya yang rusak, tetapi juga ingatan tentangnya,” ujarnya dengan raut wajah serius.
Ironisnya lagi, meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sejak 2011, keberadaan Situs Batu Gajah belum memberi dampak signifikan bagi masyarakat sekitar. Potensi ekonomi yang seharusnya bisa tumbuh dari situs ini masih belum tergarap. Minimnya sosialisasi dan buruknya akses membuat situs ini jarang dikunjungi masyarakat luas. Dapat dimaklumi, jika warga setempat beranggapan, Situs Batu Gajah bukanlah destinasi wisata. Lokasi ini hanyalah jalur yang mereka lintasi setiap hari menuju perladangan yang berada di seberang sungai.
Sekitar dua jam mahasiswa berada di lokasi sembari banyak berdiskusi dengan sang juru pelihara. Waktu yang singkat, namun cukup untuk memberikan pengalaman yang tidak tergantikan. Mereka tidak hanya melihat situs, tetapi juga memahami bagaimana sejarah, legenda, dan realitas sosial saling berkelindan.
Saat mahasiswa bersiap pulang, jalan rusak yang tadi terasa menyulitkan kini justru memberi makna lain. Ternyata, menjaga sejarah tidak cukup hanya dengan menetapkannya sebagai cagar budaya. Ia membutuhkan perhatian, akses, dan keterlibatan masyarakat. Di tengah keheningan dan kesunyian hutan dan desiran suara aliran sungai, Situs Batu Gajah tetap tegak berdiri diam, kokoh, dan setia menyimpan cerita. Bahkan, menunggu untuk benar-benar didengar.! (jh)
