Festival Literasi Hari Terakhir di Kota Pematangsiantar

Pembukaan kegiatan oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, Ir. Christina Risfani Sidauruk.

Pematangsiantar, Samuderausi.com

Festival Literasi yang diselenggarakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar memasuki hari terakhir pada Kamis, 27 November 2025. Acara ditutup setelah rangkaian kegiatan sejak pagi, dan resmi dibuka pada pukul 09.45 WIB oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, Ir. Christina Risfani Sidauruk.

Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya budaya membaca di tengah arus digitalisasi.

“Saya berharap dimulai dari gemar membaca, memikirkan, dan melakukan. Karena di masa tua kita akan kaya ilmu. Teruslah menggali informasi dari digitalisasi, manfaatkanlah digitalisasi ini untuk ilmu,” ujarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan dari sekolah dan universitas di Kota Pematangsiantar. Perwakilan guru SMA Negeri 2 menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi kompetensi generasi muda.

“Memajukan literasi di Pematangsiantar,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa karya yang ditampilkan adalah hasil tulisan para siswa.
“Siswa yang hebat dan guru yang hebat adalah mereka yang rajin membaca. Tulisan ini adalah karya siswa SMA 2,” jelasnya.

Salah satu siswi, Dinda, turut membagikan kesannya mengenai buku biografi yang disusun oleh siswa SMA 2.

“Bangga memperkenalkan buku yang kami susun. Buku ini kami mulai sejak kelas 10 dan kini kami sudah kelas 12. Di dalamnya ada nilai kerja keras dan rasa bangga. Semoga buku ini menarik. Mari kita tingkatkan literasi melalui buku ini,” tuturnya.

Perwakilan guru SMA 2 lainnya menambahkan pentingnya membaca di era global.
“Semakin banyak kita membaca, semakin kita tahu apa yang kita mau di era global. Maka semakin banyaklah membaca. Kami persembahkan buku ini kepada perpustakaan,” ujarnya.

Buku tersebut kemudian secara resmi diserahkan kepada pihak perpustakaan sebagai bentuk kontribusi dalam peningkatan literasi.

Bank Indonesia turut hadir melalui sesi pemaparan literasi keuangan. Materi disampaikan oleh Muhamad, yang membahas konsep Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, serta Suarmin, yang menjelaskan digitalisasi pembayaran melalui QRIS.

Beberapa poin yang disampaikan antara lain:
Nilai tukar rupiah,
Ciri-ciri uang layak dan tidak layak edar yang harus disetorkan ke Bank Indonesia,
Pengelolaan uang rusak, termasuk uang racikan yang dimanfaatkan sebagai limbah pembangkit listrik.

Terkait wacana penyederhanaan rupiah atau “nol rupiah”, Muhamad menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak mengurangi nilai mata uang.

“Penyederhanaan rupiah itu tidak mengurangi nilai. Nilainya tetap, hanya disederhanakan. Manfaatnya untuk memudahkan, membuat nominal lebih sederhana, dan membuka peluang investasi dari luar negeri,” jelasnya.

Pemateri kedua kemudian melanjutkan dengan pembahasan mengenai QRIS. Ia menekankan bahwa masih banyak masyarakat yang salah memahami konsep tersebut.

“QRIS bukan barcode. QRIS ini dibuat untuk mempermudah kita mengikuti perkembangan zaman, dan kita memang harus mengikuti perkembangan itu,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa QRIS bukanlah aplikasi tersendiri, melainkan sebuah kanal sistem pembayaran.

“QRIS bukan aplikasi. Ini adalah kanal sistem pembayaran. Dengan QRIS, satu barcode dapat digunakan untuk semua kebutuhan transaksi,” tambahnya.

Kegiatan ini ditutup dengan pembagian suvenir kepada peserta serta pengumuman pemenang lomba yang digelar sebelumnya. Suasana antusias tampak dari peserta yang menantikan hasil perlombaan sekaligus menjadi penutup rangkaian Festival Literasi tahun ini.

Reporter: Elvira Turnip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....