Prof. Jef Rudiantho Saragih Berbagi Pengalaman: Syarat Menulis di Jurnal Scopus Butuh ‘TTS’

Prof. Jef Rudiantho Saragih (kanan) memaparkan pengalamannya menulis jurnal Scopus (f:dok/jalatua)

Pematangsiantar, Samuderausi.com

Menulis artikel di jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus bukanlah sesuai yang harus ditakuti, apalagi dihindari. Sebab semua ada strategi, trik maupun tips yang bisa dipelajari dengan mudah.

“Syarat utamaya adalah tekun, teliti, dan sabar alias TTS. Jangan langsung patah semangat meski ditolak berkali-kali,”ujar Prof. Dr. Ir. Jef Rudiantho Saragih, M.Si, Rabu (26/11/2025) di Gedung Pascasarjana Universitas Simalungun (USI).

Melalui forum pelatihan yang digelar Lembaga Penelitian USI, Guru Besar bidang Ilmu Perencanaan Wilayah ini memaparkan kiat-kiat dan pengalamannya menulis beberapa artikel di jurnal terindeks Scopus. Para peserta yang merupakan dosen-dosen USI lintas program studi tampak serius dan antusias mengikuti kegiatan bertopik: “Tips dan Trik Menulis Artikel Internasional Bereputasi”.

Berbagai jurnal terindeks Scopus diakuinya, memiliki karakteristik masing-masing, sehingga dibutuhkan ketekunan dalam melihat status jurnal tersebut. Menurutnya, ada tiga tahapan penting dalam menulis junal internasional bereputasi, yakni: sebelum menulis, strategi menulis, dan setelah menulis.

Sebelum menulis, harus diperhatikan lebih dahulu update open researcher and contibutor ID (akun ORCHID)nya. Selain itu harus diperhatikan aplikasi yang diperlukan, antara lain: grammarly premium, turnitin, mendelay, science direct, research gate, google scholar, DOAJ, dan anna’s archive.

Pada bagian strategi menulis, harus diperhatikan pula abstrak yang lazimnya 100-250 kata namun isinya harus dikemas secara sistematis, singkat namun sarat makna. Pada bagian ini harus diperhatikan konteks siginifikanasi penelitian, metode dan tujuan, temuan utama, kontribusi, limitasi, dan future research.

Di bagian kedua ini juga harus jeli memperhatikan judul, kata kunci (keywords), pendahuluan, metode penelitian, temuan penelitian, proses pembahasan atau diskusi, dan kesimpulan.

“Harus diakui, bahwa kesulitan utama yang biasa dihadapi peneliti ada pada pendahuluan dan diskusi atau pembahasan. Sebab pada bagian diskusilah peneliti memaparkan hasil penelitiannya, berupa jawaban atau solusi atas kesenjangan (gap) yang ditulis pada pendahuluan,”ujarnya.

Kesalahan utama yang sering dilakukan para peneliti, adalah pada bagian ketiga yakni setelah menulis. Sebab sering peneliti lupa, bahwa semua jurnal pada prinsipnya bisa mengalami fluktuasi, naik atau pun menurun ratingnya. Oleh karena itu, peneliti harus senantiasa memperhatikan atau mengecek secara berkala status jurnal yang dituju.

Hal terutama yang amat penting diperhatikan adalah Scimago Jurnal Rank (SJR) atau indikator pengukur pengaruh dan prestise jurnal ilmiah yang terindeks di database Scopus.

“Caranya mudah, lihat saja di webnya: https://scimagojr.com agar kita tidak salah memilih jurnal. Jangan sampai kita lengah yang akhirnya bisa merugikan kita sendiri. Apalagi jika jurnal yang kita tuju bayarannya lumayan,”katanya mengingatkan peserta.

Sebelumnya, Kepala Lembaga Penelitian USI, Dr. Ummu Harmain saat membuka kegiatan tersebut mengajak para dosen untuk terus mencoba menulis artikel di jurnal internasional. Apalagi fenomena sekarang, menurut Dosen Sekolah Pascasarjana bidang Ilmu Perencanaan Wilayah ini, penerbitan jurnal terindeks Scopus, bukan hanya masalah kenaikan jabatan akademik atau keperluan saat akreditasi lembaga semata.

Tetapi sekaligus menunjukkan reputasi dosen dalam rangka mengembangkan keilmuannya di bidang penelitian yang luarannya berbentuk artikel ilmiah.

“Sangat biasa sekarang, orang bertanya kepada dosen-dosen, sudah berapa banyak artikel Scopus yang diterbitkan. Tentu pertanyaan demikian akan menggugah sekaligus menantang nalar akademis kita para dosen,”ujarnya.

Ditambahkan, bahwa mulai tahun 2026, hanya artikel-artikel yang terbit di jurnal terindeks Sinta 1, 2, dan Scopus yang bisa mendapatkan insentif dari Lembaga Penelitian USI. Sedangkan untuk artikel yang terbit di jurnal Sinta 3 sampai 6 tidak akan bisa lagi mendapatkannya. “Apalagi di tengah keterbatasan anggaran yang tersedia,”ungkapnya.

Kegiatan pelatihan ini diakhiri dengan sesi diskusi yang dipandu moderator, Dr. Ramainim Saragih, Sekretaris Lembaga Penelitian USI. Sejumlah peserta, diantaranya: Dr. Bismar Sibuea (Prodi Bahasa Inggris), Dr. Risjunardi Damanik (Lembaga Pengabdian Masyarakat), Dr. Muldri Pasaribu (Wakil Direktur Pascasarjana) mengapresiasi kegiatan yang diharapkan bisa mendorong minat para dosen untuk menulis di jurnal Scopus. (Jalatua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....