Cornel Simanjuntak: Tokoh Besar yang Terlupakan, Dibahas dalam Diskusi IWO di Pematangsiantar

HKBP Nommensen Pematangsiantar, Samuderausi.com

Nama Cornel Simanjuntak berkali-kali muncul dalam musik perjuangan Indonesia, namun penampilannya di kampung halaman sendiri justru memudar. Fenomena inilah yang menjadi perhatian utama Ikatan Wartawan Online (IWO) dalam diskusi publik bertema “Mengenal Lebih Dekat Cornel Simanjuntak” yang digelar di kampus Universitas HKBP Nomensen Pematangsiantar, Rabu (3/12).

Dalam paparannya, sejarawan sekaligus mantan jurnalis, Jalatua Hasugian, menilai Cornel merupakan figur penting yang belum mendapatkan tempat layak dalam sejarah nasional. Padahal, komponis kelahiran Siantar ini menciptakan lagu-lagu perjuangan yang menjadi simbol semangat kemerdekaan.

“Masalahnya, banyak media dan buku sejarah tidak menampilkan Cornel. Sosoknya dipinggirkan dari panggung nasional,” ujarnya.

Jalatua juga menekankan bahwa Cornel bukan sekedar musisi, tetapi pemuda yang meninggalkan kenyamanan hidupnya demi ikut bergerilya.

“Dia meninggal di usia 25 tahun. Anak polisi, bersekolah di Medan dan Yogyakarta, lalu memilih ikut berjuang. Ini bukan sekadar cerita musik, tapi kisah pengorbanan,” tambahnya.

Sementara itu, Hendra Simanjuntak, Wakil Rektor II Universitas HKBP Nomensen, menyoroti minimnya penanda sejarah Cornel di Pematangsiantar. Di Jakarta terdapat Taman Cornel Simanjuntak, sementara di kota kelahirannya, perhatian terhadap Cornel jauh lebih kecil. Ia bahkan mengungkapkan bahwa keluarga Cornel pernah tinggal di luar negeri dan jejak keturunannya kini tidak berada di Indonesia.

Hendra mendorong pemerintah daerah untuk memberikan hibah tanah sebagai lokasi pembangunan tugu atau monumen Cornel Simanjuntak.

“Jika ada hibah tanah, kami siap mencari dana. Siapa pun di Siantar perlu punya tempat yang memperkenalkan sebenarnya Cornel Simanjuntak,” kata Hendra. Menurutnya, monumen itu dapat menjadi pusat edukasi sekaligus bentuk penghormatan terhadap putra daerah yang berjasa bagi Indonesia.

Diskusi tersebut juga membahas bagaimana generasi muda dapat mengingat kembali tokoh-tokoh lokal yang terlupakan. Tantangan utama adalah minimnya literatur yang akurat serta lemahnya tradisi penulisan sejarah lokal. Para pemateri yang menilai jurnalis dan mahasiswa harus berani menggali, meneliti, dan mengangkat kembali tokoh-tokoh yang tidak mendapat ruang di media arus utama.

Selain diskusi sejarah, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan menulis bersama jurnalis senior Fetra Tumanggor dan jurnalis Deddy Hutajulu.

Para pemateri menegaskan bahwa siapa pun bisa menulis, tetapi hanya tulisan berdasarkan fakta yang dapat menjadi berita. Mereka mendorong siswa untuk mulai menuliskan cerita-cerita lokal, termasuk sosok seperti Cornel Simanjuntak, agar tidak tenggelam kembali oleh arus informasi yang lebih populer.

Reporter: Dear Sinaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....