Bedah Buku “Ayah, Ini Arah-Nya ke Mana, Ya?” Hadirkan Ruang Cerita dan Pemulihan Luka

Penulis buku Khoirul Trian

Pematangsiantar, Samuderausi.com

Bedah buku “Ayah, Ini Arah-Nya ke Mana, Ya?” karya Khoirul Trian digelar Selasa, 9 Desember 2025 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, lantai 5, Jalan H. Adam Malik No. 1. Acara dimulai pukul 14.20 WIB dan diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Setiap peserta mendapatkan satu buku.

Kegiatan ini dihadiri mahasiswa dari berbagai universitas di Pematangsiantar serta sejumlah perwakilan instansi seperti perwakilan Kepala BI, Kepala Arsip Perpustakaan, Kepala Statistik dan Kehumasan, mitra kerja BI, Pengadilan Negeri, BPJS Ketenagakerjaan, RSUD dr. Djasamen Saragih, senior PPBI, dan perwakilan Bantuan Listrik Indonesia. Acara dipandu oleh Ika Hardianti.

Sebelum sesi diskusi, peserta menyaksikan video mengenai gedung BI, aturan memasuki BI, profil BI Pematangsiantar, serta video menghadapi situasi genting yang terjadi. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan doa.

Yudi Irawan, dalam sambutannya mengatakan,
“Untuk periode berikutnya kuotanya kita tambah. Kita pertimbangkan ke depannya karena ini keterbatasan. Di lain waktu bisa kita adakan di luar Bank Indonesia. Ini kegiatan kedua tahun ini untuk bedah buku.”

Ia menambahkan, “Buku ini bukan sekadar ditulis. Ini tentang kehidupan yang terjadi, cermin yang dialami hampir setiap keluarga. Era sekarang sudah VC, sudah bisa komunikasi jadi anak-anak bisa berkabar.”

Ia juga menjelaskan bahwa perpustakaan BI terbuka untuk umum.
“Perpustakaan ini untuk umum, jadi siapa pun boleh hadir. Ada sekitar delapan ribuan koleksi buku, umum, tapi belum bisa dipinjam. Mahasiswa banyak baca untuk rujukan tugas, jangan takut untuk hadir karena ini terbuka untuk umum,” ujarnya.

Ia menutup sambutannya dengan pesan, “Kegiatan ini momentum penting untuk menghidupkan membaca di era digital. Dengan kegiatan ini kita bisa lebih banyak membaca, mendorong orang tua, memahami informasi, dan mengapresiasi penulis.”

Peserta kemudian melakukan foto bersama sebelum memasuki sesi cerita dan diskusi buku.

Salah satu peserta menyampaikan kesan setelah membaca karya Trian.

“Saya merasakan ini curahan isi hati. Kata-kata yang tertuang di setiap tulisan itu dalam. Saya pernah merasakan, dan yang paling menarik ada di akhir chapternya,” ucapnya.

Trian kemudian memperkenalkan dirinya dan proses lahirnya buku tersebut.

“Sebenarnya bukunya aku rilis tahun kemarin. Buku ini sudah setahun. Aku ngerasa aku nggak sendiri, kita nggak sendiri. Buku ini lahir dari buku aku sebelumnya tahun 2023 ‘Anak Kecil yang Kehilangan Pundaknya’,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa judul itu berasal dari pribahasa “anak ayam kehilangan induk.”

“Gimana kalau ternyata dalam diri kita ada anak kecil yang kehilangan pundaknya untuk bersandar, dan nggak ada yang minta maaf sama dia?”
Menurutnya, banyak orang memendam luka itu sendirian.

“Ternyata mendengarkan dan berbicara adalah literasi,” ujar Trian.

Dalam potongan video yang ditampilkan, muncul kalimat, “Ia berlarian ke sana-kemari mencari Ayah, ini arahnya ke mana, ya?”
Trian menambahkan, “Sering kali kita mencari sosok ayah di diri orang lain.”

Ia juga membaca kutipan dari bukunya:
“Bahkan saat aku berada pada bagian luka paling dalam pun, aku bisa berikan senyuman paling ramah untuk siapa pun.”

Flora, mahasiswa Nommensen, kemudian membagikan pengalamannya.

“Saat aku berada dalam luka pun aku bisa tersenyum ramah. Aku korban bullying. Dua belas tahun dibully. SD dibully, SMP dibully sampai aku nggak mau sekolah seminggu. Dari buku Trian aku dapat pesan: orang yang bully kita bukan tiang kita. Cinta diri itu yang menyelamatkan,” katanya.

Trian merespons, “Itu bukti ikhlas untuk diri sendiri. Kalau kamu nggak ngalamin ini, kamu nggak akan sekuat ini.”

Seorang guru, Lumaria Sirait, juga berbagi kisahnya sebagai ibu dari empat anak.

“Anak-anakku punya kemampuan. Aku bangga tapi bingung. Waktu itu ekonomi kami hancur. Biar aku ngutang asal anakku bisa sekolah. Menurutku anakku sudah berhasil. Sakit sebenarnya, tapi demi anak-anak aku usahakan,” tuturnya.

Trian menimpali, “Setinggi apa pun anak itu, mungkin dari ibu yang sering mengusahakan segalanya. Dan setelah anaknya jadi orang, ia harus jauh dari ibunya. Ternyata kita semua butuh pulang.”

Fitri Sipayung juga membagikan pengalaman keluarganya.
“Ibuku penuh gejolak hidup. Tidak diterima keluarga ipar. Tidak pernah dapat kasih sayang. Tapi dia kuat demi kami. Setelah umur 23 tahun baru aku paham. Sampai sekarang aku nggak bisa lupa. Banyak mimpi kupendam, tapi ibu sudah duluan pergi,” ceritanya.

Trian menanggapi, “Nggak ada kehilangan yang benar-benar ikhlas.”

Chintya turut berbagi tentang tuntutan hidup.
“Dewasa itu dituntut harus kerja, harus cari beasiswa biar nggak dikucilkan,” ujarnya.

Trian menjawab, “Kamu harus terima dulu kalau kamu nggak seberuntung orang lain. Minta maaf sama diri sendiri. Bahagiakan orang di rumah. Kalau ayah gagal jadi ayah, kamu nggak boleh gagal jadi anak.”

Menjelang akhir diskusi, Trian menyampaikan pesan,
“Ayah, nanti lebih sering cerita sama aku, ya… tentang semua hal pedih yang terjadi di masa lalu.”
Ia menutup dengan ajakan,
“Pastikan lukanya berhenti di kita. Mari saling bercerita, mari saling mendengar, barangkali ada banyak ungkap yang belum sempat terucap.”

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan dipenuhi peserta yang antusias membagikan pengalaman hidup mereka. Acara berakhir pukul 16.30 WIB.

Reporter: Elvira Turnip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....