Pematangsiantar, samuderausi.com
Mahasiswa Universitas Simalungun (USI) mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru selama menjalani magang di berbagai tempat. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang dipelajari pada perkuliahan sekaligus mengenal tantangan dunia kerja secara langsung.
Adinda Kayla Anatasya, mahasiswa semester VII Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, menjalani magang di PTPN IV Kebun Unit Sei Kopas. Selama magang, ia mempelajari aktivitas perkebunan, termasuk proses kerja para pekerja dalam mencapai produktivitas maksimal.
“Kalau pengalaman sejauh ini seru ya, menambah pengalaman dan wawasan juga. Saya bisa tahu selama di kebun, kinerja para pekerja begitu hebat untuk mendapatkan produktivitas yang maksimal,” ujar Adinda.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar selama magang adalah kondisi medan perkebunan yang sulit. Ia harus melewati lembah dan jurang serta belajar menjadi pemanen. Selain itu, lokasi perkebunan yang jauh juga membuat akses terhadap kebutuhan sehari-hari menjadi terbatas.
“Tantangan terbesarnya, saya harus bisa jadi apa pun di dalam kebun, seperti melewati lembah-lembah dan jurang-jurang dengan mengandalkan keberanian diri. Saya juga harus bisa menjadi pemanen,” katanya.
Meski awalnya kesulitan beradaptasi, Adinda merasa terbantu oleh mandor dan rekan kerja yang baik. Selama magang, ia juga mempelajari perkembangbiakan Elaeidobius kamerunicus, serangga yang berperan dalam penyerbukan kelapa sawit, serta cara penebarannya.
Setelah menyelesaikan magang, ia berharap dapat melanjutkan penelitian skripsinya dengan baik.
“Target sebenarnya tidak ada, tetapi harapan saya bisa mengerjakan skripsi saya dengan baik dan lancar, karena setelah magang ini di bulan 12 saya langsung lanjut penelitian,” ungkapnya.
Pengalaman berbeda dirasakan Muhammad Syaifullah Alim, mahasiswa semester VII Program Studi Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang menjalani magang di Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar Panei Tongah. Selama hampir dua bulan, ia mengajar Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kepada siswa kelas VII dan VIII.
“Pengalaman selama hampir dua bulan ini sangat luar biasa dan membuka mata saya. Mengajar bahasa Inggris dan IPS untuk anak-anak kelas 7 dan 8 di lingkungan pesantren modern punya dinamika yang sangat unik,” ungkap Syaifullah.
Ia mengatakan bahwa tantangan terbesarnya adalah menjaga fokus dan semangat santri karena padatnya kegiatan di pesantren. Untuk mengatasinya, ia menggunakan permainan edukatif, materi visual melalui proyektor, dan ice breaking.
Melalui kegiatan tersebut, Syaifullah juga dapat menerapkan teori yang dipelajari di kampus, mulai dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hingga penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Ia juga belajar mengelola kelas, mengatur waktu, dan menghadapi karakter siswa yang beragam.
“Dulu saya pikir menjadi guru itu fokus utamanya hanya pada penguasaan materi dan cara menyampaikannya (transfer ilmu). Ternyata di lapangan, menjadi guru itu lebih kompleks. Kita dituntut untuk menjadi pendidik, memahami psikologi anak, mengelola emosi kita sendiri, dan bisa cepat beradaptasi dengan sistem sekolah,” jelasnya.
Syaifullah berharap dapat memberikan dampak positif bagi siswa, terutama dalam meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri mereka saat belajar bahasa Inggris. Ia juga ingin menyelesaikan seluruh program magang dengan baik sebagai bekal menjadi guru profesional.
Sementara itu, Alika Yusra Zahirah, mahasiswa semester V Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, menjalani magang di PTPN IV Kebun Unit Sei Kopas. Selama hampir dua bulan, ia mendapatkan pengalaman dalam bidang administrasi, pencatatan akuntansi, dan pembukuan perusahaan.
“Selama hampir dua bulan menjalani magang di Sei Kopas, pengalaman yang dapatkan cukup berharga. Saya jadi bisa melihat secara langsung bagaimana dunia kerja, khususnya di lingkungan perusahaan, sekaligus mendapatkan pengetahuan baru yang tidak semuanya saya dapatkan di bangku kuliah,” ujar Alika.
Ia mengatakan bahwa jarak rumah yang jauh dari tempat magang menjadi tantangan tersendiri karena membatasi waktu untuk pulang. Meski demikian, pengalaman tersebut mengajarkannya untuk lebih mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab.
“Dari situ, saya belajar bahwa dunia kerja tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi,” katanya.
Alika berharap pengalaman magang tersebut dapat menjadi bekal untuk masa depannya. Ia juga berharap PTPN dapat menjadi inspirasi mengenai lingkungan kerja yang baik dan mendorongnya untuk terus belajar serta mengembangkan diri.
“Semoga pengalaman ini menjadi salah satu pengalaman penting dan berharga dalam perjalanan hidup saya,” tutupnya.
Reporter: Mika, Fryty, Valen
