Diskusi Publik Bahas Toleransi sebagai Identitas Pematangsiantar

Tepat pada 28 Februari 2025, Sebuah diskusi publik bertema “Toleransi sebagai Identitas Siantar: Merawat Pluralisme di Tengah Tantangan Zaman” digelar pada Jumat, 28 Februari 2025, di Aula Serbaguna Pematangsiantar. Acara ini diselenggarakan oleh Mata Publik bekerja sama dengan UKM Pers dan Sastra Samudera USI serta UKM Kesenian Budaya dan Musik (KBM).

Acara yang dimulai pukul 15.00 WIB ini diawali dengan penampilan grup musik Rumput Liar, kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari Anugrah Riza Nasution selaku penyelenggara serta Daniel Denoris Gulo, Pimpinan Umum UKM Pers dan Sastra Samudera USI.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yaitu Pdt. Pendard Siagian, S.Th., M.Si. Toel, anggota DPR RI/MPR RI , Prof. Dr. Hisarma Saragih, M.Hum., Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Simalungun, serta aktivis perempuan Azilah Maysarah Siregar. Acara dipandu oleh jurnalis Imran Nasution sebagai moderator.

Dalam sesi pertama, Pdt. Pendard Siagian menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat menjadi intoleran, di antaranya aspek keagamaan, problem negara, proses pembiaran terhadap diskriminasi, politisasi agama, serta faktor ketidakadilan.

Sementara itu, Prof. Dr. Hisarma Saragih menyoroti pentingnya menjaga pluralisme dengan cara saling menghargai, bertoleransi, menjauhi diskriminasi, membantu sesama, menjalin kebersamaan, memperluas wawasan, mematuhi peraturan, mengembangkan sikap empati, dan memiliki kematangan berpikir.

Azilah Maysarah Siregar menambahkan bahwa terdapat empat tingkat toleransi, yakni toleransi pasif, toleransi yang senang dengan adanya perbedaan, toleransi yang merayakan perbedaan, serta toleransi yang turut melindungi perbedaan.

Dalam diskusi, disebutkan bahwa Kota Pematangsiantar pernah dinobatkan sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia berdasarkan data dari Setara Institute. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Siantar telah lama hidup dalam keberagaman dan kebersamaan yang harmonis.

Selain itu, peserta diskusi diajak untuk lebih bijak dalam memilih pemimpin yang dapat membawa keadilan bagi masyarakat. Kutipan dari Gus Dur, “Kalau kamu bisa melakukan yang baik untuk sesama orang, orang tidak tanya apa agamamu,” menjadi penutup yang menginspirasi bagi seluruh peserta.

Diskusi ini berlangsung dengan antusias, dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat umum. Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian menarik, di mana lima penanya terbaik mendapatkan cenderamata.

Acara ditutup dengan penampilan puisi oleh Intan Purba, penyerahan sertifikat kepada narasumber, sesi foto bersama, serta penampilan musik dari Rumput Liar. Kegiatan berakhir pada pukul 17.30 WIB dengan harapan bahwa nilai-nilai toleransi dan keberagaman terus dijaga di Kota Pematangsiantar.

Reporter : Elvira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....