Pematangsiantar, Samuderausi.com
Ikatan Wartawan Online (IWO) Kota Pematangsiantar menggelar diskusi publik bertema “Potensi Kota Pematangsiantar sebagai Simpul Pariwisata Danau Toba” di Aula FKIP Universitas Simalungun (USI), Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri sekitar 30 peserta dari kalangan mahasiswa, jurnalis, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan.
Hadir sebagai narasumber: Ketua IWO Pematangsiantar Jon Roi Tua Purba, Kepala Dinas Pariwisata Hamzah F. Damanik, S.STP., M.Si., Anggota DPRD Patar L. Panjaitan, SKM., MPH., serta Akademisi USI Jalatua H. Hasugian, S.Pd., M.H., M.A. Jalannya diskusi dipandu oleh jurnalis senior, Imran Nasution.
Acara diawali doa dan sambutan dari Pemerintah Kota Pematangsiantar yang diwakili Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kolaborasi ini.
“Kita berharap Pematangsiantar tidak
sekadar menjadi daerah lintasan menuju Danau Toba, tetapi juga tempat persinggahan yang mampu menarik wisatawan untuk tinggal dan beraktivitas,” ujarnya.
Ketua IWO Pematangsiantar, Jon Roi Tua Purba, menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan kontribusi nyata jurnalis dalam mendorong pembangunan daerah lewat pertukaran gagasan.
“Harapannya, berbagai ide yang lahir di sini dapat dirumuskan menjadi rekomendasi resmi kepada pemerintah demi kemajuan Kota Pematangsiantar,” kata Jon Roi.
Memasuki sesi pemaparan, Kadispar Hamzah F. Damanik menegaskan konsep simpul pariwisata memiliki makna lebih luas dari sekadar kota persinggahan.
“Sebagai simpul, kita tidak hanya dilewati, tetapi bagaimana menahan wisatawan untuk beraktivitas, berbelanja, dan berinteraksi di sini,” jelas Hamzah.
Ia menyoroti rendahnya lama tinggal wisatawan berdasarkan data BPS tahun 2025, itu Land Of State kita masih dipantaran 1,64 untuk wisatawan domestik dan hanya dapat bertahan sekitar 1,08 untuk satu harian.
Ini menjadi salah satu permasalahan, karena adanya indikator betah atau tidak wisatawan yg singgah di siantar. Untuk mendorong angka tersebut naik, Hamzah menilai kreativitas dan memperbanyakan event menjadi kunci utama.
Sementara itu, Anggota DPRD Patar L. Panjaitan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, peluang ekonomi dari kawasan Danau Toba harus direbut meski secara administratif Pematangsiantar tidak masuk dalam kawasan inti destinasi tersebut.
“Pariwisata ini bukan hanya tugas Dinas Pariwisata, melainkan tanggung jawab lintas sektor yang harus saling mendukung,” tegas Patar.
Dari sudut pandang akademis, Jalatua H. Hasugian mengulas potensi Pematangsiantar dari sisi sejarah. Ia menyebut sejak era kolonial Belanda, Pematangsiantar merupakan kota strategis di Sumatera Timur selain Medan.
“Belanda membangun hotel, jalan, jembatan, museum, hingga taman kota karena melihat potensi ekonomi dan wisatanya. Peninggalan sejarah ini bisa menjadi daya tarik luar biasa jika dikelola serius,” ungkap Jalatua.
Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang interaktif sebelum akhirnya ditutup oleh moderator. Imran Nasution menyimpulkan bahwa menjadikan Pematangsiantar sebagai simpul pariwisata yang hidup membutuhkan komitmen jangka panjang dari seluruh pihak.
Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dengan peserta, narasumber, dan panitia.
Reporter: Fryty & Mika
