Cornel Simanjuntak: Jejak Pendek Komponis Pejuang dalam Pusaran Zaman

Sebuah Esai Historis–Jurnalistik

Oleh: Jalatua Hasugian

Cornel Simanjuntak (wikimedia.commons)

Menuliskan riwayat perjalanan seorang pemuda asal Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara yang kelak menjadi salah satu figur penting dalam sejarah musik Indonesia modern bukanlah perkara mudah. Selain karena usia hidupnya pendek (1921-1946), melainkan karena pada masa hidupnya, orang-orang malah tidak pernah melihatnya sebagai calon tokoh besar.

Seperti ditulis Hersri Setiawan dalam Cornel Simandjuntak Cahaya, Datanglah! (IndoProgress, 6 Juni 2014), Cornel bukan pemuda yang sejak kecil dikepung tanda-tanda keagungan, melainkan anak biasa yang hidup di zaman yang luar biasa. Justru di situlah letak keunikannya: ia lahir dari rakyat, berjuang sebagai rakyat, dan dikenang melampaui batas-batas yang sempat dilihat oleh zamannya.

Armeindo Sinaga, mengulasnya lebih detail melalui Skripsi di Universitas Negeri Medan (2014) berjudul: “Cornel Simanjuntak: Pejuang dan Komponis Indonesia dari Pematangsiantar (1921-1946)”.  Cornel dilahirkan di Pematangsiantar, persisnya di Kampung Tambunan, Simpang Dua (1921). Ayahnya, Tolpus Simanjuntak (Ompu Mangara) pensiunan polisi di Medan dan ibunya, Rumina boru Siahaan. Mereka 9 orang bersaudara, 7 laki-laki dan 2 perempuan.

Lulus pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) St. Fransiscus Medan (1937), melanjut ke Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK), sekolah calon guru, Xaverius College Muntilan, Yogyakarta. Cornel sempat diterima di Hoogere Burgerschool (HBS), sekolah menengah umum di Medan, tetapi orangtuanya sengaja mengirimkannya ke Pulau Jawa. Harapannya, predikat sebagai guru mempunyai status terhormat di kalangan masyarakat.

Sejak bersekolah di HIS sudah senang musik, terutama biola yang dipelajarinya lewat radio dan film. Berkat bantuan Zuster Rodolfin, Kepala Sekolah HIS St. Fransiscus Medan, ia berangkat ke HIK Muntilan. Bakat seni musik yang dimilikinya kemudian dipupuk dan dibina di sekolah ini. Menurut teman sekolahnya di sana, Binsar Sitompul dan J.F.P Hutauruk, Cornel merupakan murid yang cerdas, pemberani, jujur dan tak pernah enggan membela pendiriannya.

Gurunya, Peter J Schoulter SJ dan R.A.J Suyasmin, mengangumi Cornel sehingga di luar jam sekolah diberikan pelajaran musik secara khusus, teori dan praktik. Komponis, Liberty Manik (1992) mencacat, kelebihan HIK Muntilan dibanding HIK lainnya era kolonial, karena sangat mengutamakan pendidikan musik, kendati hanya ekstrakurikuler. Masa pendidikan di sekolah ini enam tahun, Onderbow (tiga tahun pertama) dan Bovenbow (tiga tahun terakhir).

Sekolah ini punya seorang pengajar musikal, Peter J Schoulter SJ dan menjadi master mind. Sekolah ini memiliki orkes simfoni berperangkat lengkap dengan pemain 60 orang. Sosok inilah yang kelak menjadi inspirator Cornel dalam mengembangkan bakat dan karyanya di bidang seni. 

Musik, Tubuh yang Rapuh, dan Zaman yang Keras

Sebagai komponis, Cornel mungkin tidak langsung disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Kusbini atau Bintang Sudibyo. Jumlah lagunya kurang dari dua puluh, sedikit bagi ukuran seorang maestro?. Sebagai patriot, ia tampak seperti banyak pemuda lain yang berjuang tanpa pamrih. Tetapi sejarah bekerja secara selektif: ia tidak tertarik pada panjang umur, melainkan pada kekuatan rekam jejak seseorang. Ada yang hidup panjang tetapi meninggalkan jejak biasa-biasa saja. Namun ada pula yang hidup singkat tetapi meletakkan fondasi bagi arah zaman. Cornel sendiri berada pada golongan yang kedua.

Dalam empat tahun masa kekomponisannya, di tengah penyakit TBC yang menggerogoti paru-parunya, luka tembak yang tidak pernah benar-benar pulih, dan tekanan militer Jepang yang mengawasi setiap gerak rakyat, Cornel justru menggubah lagu-lagu yang menjadi denyut batin bangsa yang sedang mencari suaranya.

Lagunya dalam tulisan Hersri itu, bukan sekadar rangkaian nada, melainkan gema harapan, desakan, dan teriakan sebuah generasi. Penyair Agam Wispi bahkan menuliskan sajak panjang “Gugurnya Seorang Komponis” untuk mengenangnya,  sebuah pengakuan bahwa Cornel bukan sekadar gugur sebagai pejuang, tetapi sebagai penjaga nada kebangsaan.  

Cerita wafatnya memiliki kesan yang kuat. Ketika truk yang membawa jenazahnya menuruni jalan Pakem, anak-anak sekolah berteriak spontan, “Cornel Simandjuntak meninggal!” Seolah kabar itu telah mendahului truk yang mengangkut tubuhnya. Mengapa demikian? Mungkin karena lagu-lagunya telah lebih dahulu hidup di hati rakyat; atau karena dalam masa bangsa yang resah, kabar gugurnya pembawa harapan selalu bergerak lebih cepat daripada kendaraan apa pun.

Memori Publik: Antara Penghormatan dan Ironi

Nama Cornel kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Yogyakarta. Namun pengabadian itu menyimpan ironi: jalan itu berdekatan dengan kawasan yang diasosiasikan masyarakat dengan rumah sakit jiwa dan sanatorium TBC. Orang yang tidak tahu sejarahnya bisa saja keliru menafsirkan hubungan itu. Memori publik acap kali kabur, tidak konsisten, bahkan tidak adil.

Meski begitu, Yogyakarta tetap memberikan tempat bagi Cornel. Monumennya didirikan, makamnya dirawat, dan pada tahun 1957 digelar peringatan besar untuk “menempatkan Cornel Simandjuntak pada tempat yang sebenarnya.” Paduan suara lima ratus pelajar menyanyikan lagu-lagunya, orkes simfoni mengiringi ingatan sebuah bangsa yang nyaris kehilangan salah satu tokohnya.

Pada tahun 1962 ia dianugerahi Satya Lencana Kebudayaan. Pada tahun 1978 kerangkanya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, tetapi monumen tangga nada yang menjadi identitas musikalnya justru tidak ikut dipindahkan. Sebuah ironi lain: pada saat ia akan diangkat secara formal sebagai pahlawan, sisi musikalnya seolah memudar di balik sistem penghargaan negara yang lebih akrab dengan pahlawan bersenjata daripada pahlawan penggubah nada.

 

Makam Cornel Simanjuntak (wikimedia.commons)

Zaman yang Membentuk Cornel

Untuk memahami Cornel, kita perlu memahami zaman yang membentuknya. Seandainya Perang Pasifik tidak pecah, seandainya Jepang tidak datang, dan seandainya kekuatan kolonial Belanda tidak diguncang perang global, Indonesia ‘mungkin’ tidak merdeka pada tahun 1945 dan Cornel mungkin hanya menjadi guru musik biasa yang tidak meninggalkan jejak dalam sejarah nasional.

Jepang memang menindas: romusha, Kenpeitai, pembatasan kebebasan berbicara. Tetapi Jepang juga memperkenalkan organisasi semi-militer seperti Seinendan, Keibodan, Heiho, dan PETA, ruang yang secara paradoks membentuk generasi pemuda terlatih yang kelak melawan Jepang dan kemudian Belanda. Cornel hidup dalam kontradiksi itu. Ia menggubah lagu-lagu pesanan Jepang seperti “Mars Heiho” atau “Asia Sudah Bangun”, tetapi juga diam-diam merawat identitas musikal Indonesia yang lebih dalam.

Musiknya lebih dari propaganda; ia adalah nasionalisme yang lahir dari melodi, bukan dari memorandum politik. Setelah kemerdekaan, lagu-lagunya: “Maju Tak Gentar”, “Sorak-Sorak Bergembira”, “Indonesia Tetap Merdeka” menjadi musik revolusi yang hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Namun ia tidak sempat menyaksikan semuanya mekar. Ketika bangsa merdeka, paru-parunya justru kalah oleh perang yang ia hadapi secara pribadi.

Mengapa Kolonial Belanda Tak Mencatatnya?

Cornel hampir tidak muncul dalam arsip-arsip kolonial Belanda. Alasannya cukup jelas dan masuk akal: Ia bukan anggota KNIL tetapi anggota PETA, pasukan bentukan Jepang. Aktivitasnya lebih banyak di bidang seni dan budaya, bukan struktur militer formal. Belanda juga tidak mencatat tokoh “nasionalis budaya” yang tidak berposisi strategis. Ia meninggal terlalu muda untuk masuk radar intelijen kolonial. Maka, meskipun luput dari arsip kolonial, kontribusinya justru tercatat kuat dalam sejarah nasional.

Jejak Cornel dalam Surat Kabar, Majalah, dan Perfilman

Begitu pun, nama Cornel muncul dalam surat kabar Belanda, de Vrije Pers (3 Maret 1949) dalam laporan “Dari Krontjonglied hingga Lagoe Modern” karya G.H. von Faber. Ia ditempatkan sejajar dengan para pembaru musik keroncong modern: G.W. Sinsoe, Koesbini, Amir Pasariboe, Tan Peng Khoen, dan lain-lain. Dalam ulasan itu, Cornel dipuji sebagai komposer muda yang memadukan ritme mars, gaya khidmat, dan orisinalitas melodi, bahkan disebut sedang mengerjakan operet Madah Kelana sebelum ia wafat.

Dalam sebuah majalah berbahasa Belanda, Filmforum (10 Oktober 1952) juga ada menyinggung kedekatan personal dan intelektual antara Cornel dan Usmar Ismail, jurnalis dan tokoh perfilman nasional. Usmar bahkan menulis lirik untuk beberapa komposisi Cornel. Kedekatan itu menunjukkan bahwa Cornel berada dalam lingkaran seniman muda yang membentuk fondasi kebudayaan Indonesia.

Majalah Tempo (2 Desember 1978) juga mencatat pemindahan jenazah Cornel dari pemakaman umum Kerkop ke TMP Semaki, Yogyakarta. Ulasan Tempo itu menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya menghormati mereka yang berjuang dengan senjata, tetapi juga mereka yang mengobarkan semangat lewat budaya dan seni.

Selain itu, ulasan Kompas (8 Juni 2014) melalui tulisan opini Frans Sartono, juga menampilkan Cornel sebagai figur yang memadukan dua wajah musikal: heroik-patriotik dan puitik-romantik. Pertunjukan Selincam Cornel Simanjuntak di Yogyakarta memperlihatkan kembali perjalanan hidupnya, termasuk karya-karya seriosa yang jarang dibicarakan publik. (https://www.kompas.id/artikel/cornel-simanjuntak-patrioik-puitik-romantik).

Pada tahun 2016, dokumenter Maestro Indonesia (Miles dan PT Pembangunan Jaya), dipandu Nicholas Saputra, memperluas kembali ingatan publik tentang Cornel melalui wawancara dengan sejarawan, musisi, dan pihak sekolah HIK Muntilan, tempat Cornel ditempa. Ia dikisahkan sebagai seorang prajurit tanah air dan maestro dalam menciptakan lagu-lagu bertema heroik-patriotik, seperti “Maju Tak Gentar”, “Tanah Tumpah Darahku” dan “Sorak-Sorak Bergembira” (https://www.youtube.com/watch?v=zJrC1phh1EI).

Sementara itu, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 15 September 2024 kembali menegaskan peran Cornel Simanjuntak sebagai komponis sekaligus pejuang yang turun ke medan tempur pada 1945–1946. Hingga masa-masa akhir hidupnya, Cornel Simanjuntak terus mendedikasikan dirinya menggubah lagu-lagu bernuansa perjuangan. Pada 1961, Pemerintah Indonesia memberikan tanda penghormatan berupa piagam Satya Lencana Kebudayaan untuk menghargai jasa-jasa Cornel Simanjuntak.

#ArsipHariIni menampilkan foto pelajar sedang bernyanyi bersama di atas panggung untuk memperingati wafatnya komponis Cornel Simanjuntak di Studio RRI, 15 September 1952. (ANRI.go.id)

Warisan yang Mengalun Panjang

Cornel Simanjuntak bukan hanya komponis, tetapi juga simbol generasi yang terhimpit antara kolonialisme, pendudukan militer, dan revolusi. Musiknya mencerminkan dinamika sejarah bangsa Indonesia. Cornel Simanjuntak adalah figur penting dalam pembangunan budaya Indonesia modern. Ia menggabungkan pendidikan kolonial, pengalaman Jepang, dan semangat revolusi ke dalam karya-karyanya. Hal ini menunjukkan bahwa Cornel merupakan representasi utama hubungan antara musik, sejarah, dan nasionalisme. Karya-karyanya pun menjadi warisan permanen bangsa.

Cornel mungkin tidak memimpin batalyon, tidak menandatangani manifesto, dan tidak meninggalkan pidato politik. Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih halus dan kadang lebih penting: jiwa dari perjuangan itu sendiri. Kita tidak mengingat wajah para pemuda yang berlari dengan bambu runcing, tetapi kita mengingat lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Lagu-lagu yang membuat mereka berani, teguh, dan merasa tidak sendirian.

Usianya memang pendek. Tetapi warisannya panjang, yang singkat hanyalah raganya; yang panjang adalah getaran nada yang ia taburkan ke dalam jiwa bangsa. Cornel telah gugur, tetapi tidak hilang. Ia adalah contoh bagaimana rakyat biasa pun dapat menorehkan jejak luar biasa dalam perjalanan sebuah bangsa. Sekarang, yang bertahan bukan semata nama di batu nisan, tetapi suara yang terus mengalun dari generasi ke generasi. (Penulis, Dosen Prodi Sejarah Universitas Simalungun)  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....