Rupiah Bergerak Menguat di Pasar Spot, BI Tegaskan Komitmen Menjaga Stabilitas Kurs

Sumber Gambar: reuters.com

Samuderausi.com

Pada perdagangan Senin (1/12), nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat menguat Rp12 atau 0,07% ke level Rp16.663 per dolar AS. Sebaliknya, kurs referensi Jisdor justru mengalami pelemahan tipis Rp7 atau 0,04% menjadi Rp16.668 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah menguat bersama mayoritas mata uang lainnya. Penguatan terbesar terjadi pada yen Jepang sebesar 0,55%, disusul baht Thailand (0,46%), peso Filipina (0,16%), dolar Singapura (0,13%), ringgit Malaysia (0,05%), dan yuan China (0,02%).
Sementara itu, beberapa mata uang lain justru melemah, seperti rupee India (0,19%), dolar Taiwan (0,12%), won Korea (0,08%), dan dolar Hong Kong (0,04%).

Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,17% ke level 99,29, melanjutkan penurunan selama enam hari beruntun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI berkomitmen menjaga stabilitas kurs rupiah di tengah volatilitas global. Dalam sebuah forum ekonomi pada Senin (1/12), Perry menyatakan bahwa rupiah tahun depan akan diarahkan untuk bergerak di kisaran Rp16.500 per dolar AS, bahkan bisa lebih kuat di level Rp16.400.

“BI berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas nilai tukar,” ujarnya.

Pada pukul 03.10 GMT, rupiah masih diperdagangkan di level Rp16.660 per dolar AS dan tercatat menjadi mata uang dengan kinerja terburuk kedua di Asia sepanjang tahun, melemah sekitar 3,4% secara year-to-date.

Dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Senin (1/7), Perry menegaskan bahwa BI akan menjaga pergerakan rupiah agar tidak menembus level Rp16.500 per dolar AS pada 2025 dan 2026.

“Kami akan menjaga stabilitas nilai tukar di rentang Rp16.100–Rp16.500 tahun ini, dan Rp16.000–Rp16.500 pada tahun depan,” ujar Perry.

Berdasarkan data Refinitiv, Jumat (26/9/2025) pukul 09.15 WIB, rupiah berada di posisi Rp16.780 per dolar AS, melemah 0,27% dan mendekati level psikologis Rp16.800. Pada awal pekan yang sama, rupiah sempat menguat hingga Rp16.574, namun kembali terkoreksi sehingga total pelemahan mencapai Rp206.

Perry menjelaskan bahwa BI telah menggunakan seluruh instrumen stabilisasi, mulai dari intervensi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pembelian SBN di pasar sekunder, hingga intervensi NDF di pasar luar negeri.

“BI yakin seluruh langkah ini dapat menstabilkan nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya,” tegas Perry.

Ekonom UOB Kayhian, Surya Wijaksana, menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari derasnya arus keluar modal asing (capital outflow), naiknya risiko pasar (CDS dari 70 ke 81), serta iklim investasi yang dinilai belum kondusif.

Selain itu, pemangkasan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin pada 20 Agustus turut menjadi faktor pendorong pelemahan rupiah setelah sebelumnya stabil di level Rp16.190 pada 13 Agustus.

Dalam rapat dengan DPRD, Perry juga menegaskan bahwa rupiah berpotensi kembali menguat.
“Rupiah yang kemarin sempat mencapai 16.560, hari ini sudah stabil di 16.400,” ujarnya.
“Kami berupaya menurunkannya ke 16.300 atau bahkan lebih baik lagi.”

Reporter: Elvira Turnip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....