Pematangsiantar, Samuderausi.com
Ramadan bagi mahasiswa perantau bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Di balik kamar kos yang sunyi, ada rasa rindu pada rumah, pada suara ibu yang membangunkan sahur, dan pada hangatnya kebersamaan saat berbuka.
Sella, mahasiswi Program Studi Manajemen asal Bandar Masilam, telah satu setengah tahun tinggal di kos Pematangsiantar. Ramadan tahun ini menjadi Ramadan keduanya jauh dari keluarga.
Menurutnya, perbedaan paling terasa ada pada suasana sahur. Jika di rumah ia terbiasa sahur dan berbuka bersama keluarga, di kos semuanya dilakukan sendiri. Tidak ada lagi yang membangunkan atau sekadar mengingatkan salat.
“Kalau di rumah suasananya ramai. Di kos lebih sepi, jadi terasa sekali bedanya,” ujarnya kepada kru Samudera (26/02).
Untuk menyiasati kehidupan sebagai anak kos, Sella memilih menu sederhana seperti telur dadar, tempe goreng, mi instan, atau ayam yang bisa dimakan beberapa kali. Saat berbuka, ia biasanya membeli takjil sederhana. Ia juga memisahkan anggaran sahur dan berbuka dari pengeluaran lain agar keuangannya tetap terkontrol.
Meski terasa berat, ia menyadari ada pelajaran penting di baliknya. Ia belajar mengatur waktu, menyiapkan kebutuhan sendiri, dan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya.
“Dari situ saya belajar mandiri, karena semua harus disiapkan sendiri,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Nur Setia Ningsih, mahasiswi Prodi Agroteknologi asal Dolok Masihul, yang telah enam bulan tinggal di Asrama. Ramadan kali ini menjadi pengalaman pertamanya berpuasa jauh dari keluarga.
Di rumah, ia terbiasa sahur dan berbuka dalam suasana ramai bersama orang tua dan saudara. Di kos, suasananya jauh lebih tenang.
“Kalau di rumah bisa kumpul bareng, bahkan rebutan makan sama adik. Di sini lebih sepi,” tuturnya saat di wawancarai kru Samudera (26/02).
Untuk kebutuhan makan, Nur mengikuti katering yang telah dibayarkan orang tuanya. Sementara untuk tambahan takjil, ia menggunakan uang jajan sendiri. Tantangan terbesarnya adalah bangun sahur tanpa bantuan orang tua. Namun, ia menganggap hal itu sebagai proses belajar menjadi lebih mandiri.
“Karena semuanya serba sendiri, jadi lebih terbiasa bangun pagi dan mengatur diri,” ujarnya.
Sementara itu, Pratiwi, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia asal Tangga Batu, juga menjalani Ramadan pertamanya sebagai anak kos. Ia merasakan perubahan besar dalam suasana Ramadan.
Di rumah, Ramadan terasa hangat dan penuh kebersamaan. Di kos, ia harus bangun dan menyiapkan sahur sendiri. Rasa rindu paling sering muncul saat sahur yang sepi.
Menu praktis seperti mi instan, nasi telur ceplok, tempe, atau sesekali nasi padang menjadi pilihan untuk bertahan selama Ramadan. Ia juga berusaha disiplin mengatur waktu agar tetap kuat mengikuti perkuliahan.
“Puasa ini saya niatkan sebagai latihan diri supaya lebih sabar dan mandiri,” katanya.
Meski menjalani Ramadan dengan cara yang berbeda, ketiganya memiliki harapan yang sama, dapat menjalani puasa dengan lancar, sehat, dan penuh keikhlasan.
Reporter: Valen
