Polemik Perubahan Nama Program Studi Teknik Menjadi Rekayasa Tuai Pro dan Kontra

Sumber Foto : kemdiktisaintek.go.id

Jakarta, Samudera.com

Perubahan nomenklatur sejumlah program studi dari “Teknik” menjadi “Rekayasa” yang dilakukan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menuai beragam tanggapan dari masyarakat, akademisi, hingga mahasiswa. Kebijakan tersebut menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah banyak perguruan tinggi mulai menyesuaikan nama program studi mereka sesuai aturan terbaru pemerintah.

Kemendiktisaintek menjelaskan bahwa perubahan istilah tersebut bukan bertujuan menghapus bidang Teknik, melainkan menyesuaikan sistem pendidikan tinggi Indonesia dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan standar internasional. Dalam keterangannya pada 15 Mei 2026, kementerian menyebut istilah “Rekayasa” merupakan padanan resmi dari kata engineering dalam bahasa Indonesia yang selama ini telah digunakan dalam dunia akademik dan keilmuan.

“Penggunaan istilah rekayasa dilakukan untuk memperkuat keselarasan nomenklatur pendidikan tinggi Indonesia dengan perkembangan global,” tulis Kemendiktisaintek.

Pemerintah menilai penggunaan istilah “Rekayasa” lebih mencerminkan perkembangan ilmu engineering yang kini semakin luas dan multidisipliner. Tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, bidang tersebut juga mencakup pengembangan teknologi, inovasi, desain sistem, hingga penerapan ilmu secara terintegrasi dalam kehidupan masyarakat dan industri modern.

Sejumlah program studi yang mengalami perubahan nomenklatur di antaranya Rekayasa Berkelanjutan (Sustainability Engineering), Rekayasa Biomedis (Biomedical Engineering), Rekayasa Biosistem (Biosystem Engineering), Rekayasa Dirgantara (Aerospace Engineering), Rekayasa Elektro (Electrical Engineering), Rekayasa Industri (Industrial Engineering), Rekayasa Kelautan (Ocean Engineering), Rekayasa Kimia (Chemical Engineering), Rekayasa Komputer (Computer Engineering), Rekayasa Lingkungan (Environmental Engineering), Rekayasa Mesin (Mechanical Engineering), Rekayasa Nuklir (Nuclear Engineering), Rekayasa Pertambangan (Mining Engineering), Rekayasa Sipil (Civil Engineering), hingga Rekayasa Telekomunikasi (Telecommunications Engineering).

Selain itu, terdapat pula perubahan nomenklatur pada program studi lain seperti Rekayasa Material dan Metalurgi, Rekayasa Manufaktur, Rekayasa Mekatronika, Rekayasa Perminyakan, Rekayasa Transportasi, Rekayasa Perkeretaapian, Rekayasa Tekstil, serta Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (Robotics and Artificial Intelligence Engineering).

Menurut pemerintah, perubahan nomenklatur tersebut bertujuan mempermudah pengakuan akademik secara internasional serta meningkatkan daya saing lulusan Indonesia di tingkat global. Pemerintah juga memastikan bahwa perubahan nama program studi tidak mengubah kurikulum, kompetensi lulusan, maupun prospek kerja mahasiswa.

“Tidak ada penghapusan bidang Teknik. Perubahan ini hanya penyesuaian nomenklatur pendidikan tinggi,” tegas pihak kementerian.

Meski demikian, kebijakan tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai istilah “Teknik” sudah sangat melekat dalam dunia pendidikan Indonesia dan lebih mudah dipahami masyarakat dibanding istilah “Rekayasa”. Sebagian akademisi juga mempertanyakan urgensi perubahan nama program studi di tengah masih banyak persoalan pendidikan yang perlu dibenahi.

Di media sosial, polemik ini memunculkan perdebatan antara pihak yang mendukung modernisasi istilah akademik dengan pihak yang ingin mempertahankan identitas lama bidang Teknik. Sebagian masyarakat khawatir perubahan istilah dapat menimbulkan kebingungan, terutama bagi calon mahasiswa dan dunia kerja.

“Perubahan istilah jangan sampai menghilangkan identitas dan sejarah panjang pendidikan Teknik di Indonesia,” ujar salah seorang akademisi dalam diskusi pendidikan tinggi.

Terlepas dari polemik yang berkembang, Kemendiktisaintek menegaskan bahwa transformasi nomenklatur ini merupakan bagian dari upaya pembaruan pendidikan tinggi nasional agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta tantangan global di masa depan.

Sumber: Kemdiktisaintek.go.id, Detik.com, Tirto.id, Jawapos.com

Reporter: Fryty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....