Pematangsiantar, Samuderausi.com
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini mendekati Rp17.500 per dolar AS menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi ekonomi. Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Simalungun, Raja M. Nainggolan dan Pawer Derasa Panjaitan menilai kondisi tersebut perlu disikapi dengan kewaspadaan tanpa kepanikan berlebihan.
Raja M. Nainggolan mengatakan pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari meskipun transaksi domestik tetap menggunakan rupiah. Menurutnya, sebagian besar komoditas di Indonesia masih bergantung pada impor, mulai dari gadget, teknologi pendidikan, hingga kebutuhan industri.
“Ketika rupiah melemah, otomatis harga barang-barang tersebut meningkat,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah, terutama terhadap komoditas impor seperti bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut dinilai dapat memicu inflasi apabila tidak diantisipasi dengan kebijakan fiskal yang tepat.
Dalam pandangannya, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan rupiah melemah, yakni faktor eksternal, faktor internal, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik global serta kenaikan suku bunga Amerika Serikat menjadi pemicu utama menguatnya dolar AS.
“Ketika suku bunga Amerika meningkat, investor lebih memilih menyimpan dananya dalam dolar karena dianggap lebih menguntungkan. Akibatnya dolar semakin kuat dan rupiah melemah,” jelasnya.
Sementara dari sisi internal, Raja menyoroti pentingnya disiplin fiskal pemerintah agar anggaran negara lebih fokus menjaga stabilitas ekonomi dan mengantisipasi inflasi. Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan ekonomi nasional.
“Kalau masyarakat tidak percaya terhadap pengelolaan fiskal pemerintah, maka modal bisa keluar dari Indonesia dan tekanan terhadap rupiah semakin besar,” katanya.
Raja juga mengimbau masyarakat mulai beradaptasi dengan kondisi ekonomi global saat ini. Menurutnya, masyarakat perlu menjaga daya beli dan mencari alternatif barang substitusi terhadap produk-produk yang harganya meningkat akibat tekanan nilai tukar.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Karena itu masyarakat harus tetap menjaga daya beli dan mulai menyesuaikan diri dengan perubahan harga,” ujarnya.
Sementara itu, Pawer Darasa Panjaitan mengatakan pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga memperberat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menjelaskan, utang luar negeri yang dibayar menggunakan dolar AS akan semakin membebani pemerintah ketika nilai tukar rupiah terus melemah.
“Ketika kita bicara tentang utang, itu dibayar dengan dolar. Konsekuensinya tentu memberatkan APBN kita. Dampaknya mungkin belum terlalu terasa sekarang, tetapi lambat laun bisa memengaruhi harga-harga, terutama yang berkaitan dengan impor,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Meski demikian, Pawer menilai kondisi saat ini belum dapat disamakan dengan krisis moneter tahun 1998. Ia berharap pemerintah dan Bank Indonesia masih mampu menjaga stabilitas rupiah agar tetap berada dalam batas yang wajar.
“Kita tentu teringat peristiwa 1998 ketika kurs melonjak drastis dan menimbulkan kekacauan ekonomi. Namun kita berharap pemerintah dan Bank Indonesia masih mampu menjaga stabilitas rupiah agar tetap dalam batas wajar,” katanya.
Menurut Pawer, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik maupun melakukan aksi memborong dolar AS karena dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.
“Kalau masyarakat ikut menimbun dolar, permintaan meningkat sementara stok tetap, maka harga dolar semakin naik. Jadi masyarakatd perlu menahan diri terhadap belanja yang berkaitan dengan valuta asing,” jelasnya.
Terkait kebutuhan pokok, Pawer menyebut dampak pelemahan rupiah hingga kini belum terlalu dominan. Ia menilai ketahanan pangan nasional masih cukup baik sehingga fluktuasi harga baru terjadi pada beberapa komoditas tertentu.
“Kalau kita lihat sekarang, harga kebutuhan pokok memang ada yang naik, tetapi belum meresahkan. Beras masih stabil, minyak goreng juga masih stabil. Hanya beberapa komoditas seperti tomat yang mengalami kenaikan cukup tinggi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, inflasi di Indonesia umumnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni kenaikan harga BBM dan kenaikan gaji. Jika pemerintah menaikkan harga BBM, dampaknya akan cepat merambat ke berbagai sektor ekonomi.
Pawer berharap pemerintah terus memberikan komunikasi yang intensif kepada masyarakat agar tidak muncul kepanikan di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak.
“Kita berharap pemerintah tetap mampu menjaga stabilitas rupiah dalam batas yang masih aman dan dapat dikendalikan sehingga masyarakat tidak resah,” tutupnya.
Reporter: Kevin & Mika
