Bagi sejumlah mahasiswa Universitas Simalungun (USI) kota PematangSiantar, UKM Pers dan Sastra Samudera bukan cuma hanya tempat singgah, tapi juga ruang belajar untuk membentuk karakter.
Pernyataan itu di sampaikan Hana Seftiyanti, dari program studi akuntansi semester 6, mahasiswa USI yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Umum UKM Pers dan Sastra Samudera periode 2024/2025.
Awalnya, Hana mengaku sempat bingung menentukan pilihan UKM karena banyaknya UKM di USI. Namun setelah menelusuri media sosial beberapa UKM di USI, ketertarikannya jatuh pada UKM Pers dan Sastra Samudera.
“Aku lihat-lihat sosmed UKM di USI, terus tertarik sama kegiatan-kegiatan UKM Pers dan Sastra Samudera. Dari situ aku mutusin daftar ke Samudera,” Ucap Hana, Jumat (30/05/2025)
Keinginannya keluar dari zona nyaman menjadi alasan utamanya bergabung di UKM Pers dan Sastra Samudera USI. Karena merasa Samudera adalah ruang yang tepat untuk belajar menulis, public speaking, dan tampil di depan kamera.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Aku pengen berkembang dan Samudera datang di waktu yang pas,” ujar Hana yang tinggal di kota Pematangsiantar.
Gabung di UKM Samudera ternyata membawa perubahan baginya. “Dulu aku pemalu, kurang percaya diri, dan belum berani ngomong di depan banyak orang. Tapi setelah aktif di UKM, pelan-pelan aku belajar buat lebih terbuka, berani ambil keputusan, dan lebih tegas juga,” ungkapnya.
Sebagai sekretaris, Hana mengaku banyak belajar memahami karakter tiap anggota. “Aku tanamkan prinsip, saat aku sudah memilih menjadi Sekretaris Umum sebuah organisasi maka aku harus siap untuk memperhatikan semua orang dibanding diriku sendiri,” ucapnya.
Menurutnya menghadapi konflik dalam organisasi menjadi tantangan sendiri. Biasanya beda pendapat itu muncul karena miskomunikasi. Sehingga harus mendengar dulu dari dua sisi untuk dibahas bersama-sama. Karena Komunikasi itu penting, apalagi di UKM selalu terjadi perbedaan ide dan pendapat.
Soal pengembangan diri, Hana menilai UKM ini memberi banyak ruang untuk bertumbuh. Tidak hanya disuruh kerja tapi juga diberi pemahaman tentang UKM pers dan sastra Samudera.
“Ada pelatihan nulis, sastra, public speaking, sampai belajar tampil depan kamera. Kalau kita aktif dan mau belajar, ini tempat yang cocok untuk berkembang,” ungkapnya.
Perubahan besar dirasakan Hana sejak bergabung, mulai dari menulis berita, menjadi MC di beberapa acara, tampil depan kamera, hingga dipercaya menjadi pemateri dan merasakan lebih percaya diri dan bisa memanajemen waktu.
Cerita serupa juga disampaikan dari Leni Purba, sebagai demisioner Pemimpin Umum UKM Pers dan Sastra Samudera, periode 2023/2024 yang bergabung sejak 2021, alasannya ingin mengekspresikan diri lewat tulisan dan foto, serta berani melangkah keluar dari zona nyaman.
“Aku memang suka mengekspresikan sesuatu lewat tulisan dan foto. Karena nggak mau tetap di zona nyaman, aku pengen juga mampu berkomunikasi lisan di hadapan publik. Setelah lihat semua UKM di USI, menurutku Samudera paling cocok untuk memupuk diri,” ungkap Leni.
Sejak awal, Leni sudah punya prinsip untuk aktif berorganisasi supaya dapat memanfaatkan waktu luang.
Perubahan paling besar yang ia rasakan sejak bergabung adalah tumbuhnya jiwa kepemimpinan.
“Bicara soal perubahan, sebenarnya banyak. Tapi yang paling besar itu saat ‘lahir’ jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab untuk memimpin suatu organisasi itu nggak mudah,” ujarnya.
Baginya, karakter terbentuk seiring waktu, namun momen paling menentukan adalah saat terpilih menjadi pemimpin umum. Karena bukan soal status tapi belajar memahami dan menghargai puluhan jiwa mahasiswa untuk membentuk karakter.
Organisasi juga mengajarkannya pelajaran hidup sehingga menjadi biasa diterpa banyak situasi, lebih siap menyelesaikan masalah, berani mencoba dan bisa berguna dimanapun serta kapanpun.
“Lewat tulisan dan hobi bicara di depan umum, aku jadi tahu arah minat dan kemampuanku,” ucapnya.
Sementara Dian Dipa Pratiwi, sebagai demisioner Sekretaris Umum Samudera periode sebelumnya, mengaku sempat sangat grogi saat bicara di depan umum. Namun, organisasi justru menjadi ruang latih yang efektif.
“Dulu pas SMA, presentasi aja gemetaran. Tapi karena sering ngomong di depan umum di UKM, lama-lama jadi pede,” ucap Dian.
Menurutnya, semua momen baik yang menyenangkan maupun menantang turut membentuk karakter, belajar menghargai waktu dan menikmati setiap proses.
Senada dengan pendapat Maisyaroh Purba, anggota aktif angkatan 13, UKM Samudera bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Ia awalnya memilih Samudera karena program pelatihannya menarik.
“Dari awal aku nyari organisasi yang pas. UKM ini nawarin pelatihan public speaking, dan setelah gabung, aku mulai dikenal orang karena sering wawancara dan belajar nulis berita,” jelasnya.
Maisyaroh mahasiswa semester 4 program studi ekonomi pembangunan bercerita bahwa pengalaman paling berkesan baginya adalah saat menjadi ketua panitia kongres.
“Pas nyampein kata sambutan, ya walaupun sedikit grogi, tapi untuk pertama kalinya melakukan itu, aku merasa cukup terkesan,” ungkapnya.
Maisyaroh mengakui kelemahannya adalah kurang percaya diri di depan umum.
“Tiba-tiba belibet, tiba-tiba nge-freeze. Tapi sejak masuk Samudera, aku lumayan percaya diri. Sedikit demi sedikit, Samudera mengubahku jadi berani dan aku punya banyak bekal baru ,” katanya.
Melalui pelatihan UKM samudera Maisyaroh Purba mengetahui cara menulis berita, teknik wawancara dan punya teman serta relasi baru. Organisasi juga mengubah cara berpikir dan bersosialisasinya.
“Pasti berpengaruh ya. Kita bisa jadi nggak asal bertindak, punya pemikiran yang lebih matang,” ujarnya mengakhiri.
Reporter : Elvira turnip
