Tantangan yang dihadapi mahasiswa tidak berhenti setelah memperoleh gelar sarjana. Justru setelah lulus, mereka dituntut untuk mampu menerapkan ilmu di masyarakat sekaligus menata masa depan. Hal ini disampaikan oleh Abdi Damanik, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Menurut Abdi, salah satu tantangan terbesar lulusan adalah stigma masyarakat terhadap gelar akademik. “Kadang ada yang berkata, sudah S.Pd kok kerjanya begitu atau sudah S.Pd pasti banyak uangnya. Padahal kenyataannya tidak semudah itu,” ujarnya.
Selain stigma, persoalan mencari kerja juga menjadi perhatian. Abdi menilai, persaingan di dunia kerja saat ini semakin ketat, khususnya bagi lulusan pendidikan. “Kebijakan pemerintah yang menghapus guru honorer di sekolah negeri membuat banyak lulusan S.Pd menunggu kesempatan melalui program PPG,” tambahnya.
Abdi menekankan, keterampilan non-akademik juga tidak kalah penting bagi fresh graduate. Menurutnya, kemampuan tersebut dapat membantu lulusan bertahan menghadapi situasi yang tidak selalu sesuai dengan bidang studinya. Ia juga mendorong para lulusan untuk tidak gengsi bekerja di bidang apa pun selama halal. “Jangan malu, dari pekerjaan apa pun pasti ada ilmu baru yang bisa kita pelajari,” tuturnya.
Menghadapi rasa cemas setelah lulus, Abdi menilai dukungan keluarga dan orang terdekat sangatlah penting. Ia berpesan agar para lulusan tidak cepat mengeluh jika belum mendapatkan pekerjaan. “Mungkin memang belum waktunya. Jangan stres hanya karena itu,” pesannya.
Dengan berbagai tantangan yang ada, mahasiswa dituntut untuk terus mengasah diri, baik dari segi akademik maupun keterampilan hidup, agar lebih siap menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Reporter: Intan purba
