Bullying: Luka yang Masih Terjadi di Dunia Pendidikan

Sumber gambar: University of Miami Health News (UHealth)

Bullying atau perundungan adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang oleh satu orang atau sekelompok orang untuk menyakiti atau mengendalikan orang lain. Tindakan ini menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan dan dapat menimbulkan kerugian fisik, psikologis, maupun sosial bagi korbannya. Bullying bisa terjadi di mana saja di sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan di dunia maya.

Bullying dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk, yaitu:

Bullying fisik: Melibatkan kekerasan secara langsung, seperti memukul, menendang, mendorong, atau merusak barang milik korban.

Bullying verbal: Menggunakan kata-kata untuk menyakiti atau mengancam orang lain, seperti ejekan, hinaan, atau penyebaran desas-desus.

Bullying sosial (relasional): Menyakiti korban dengan cara merusak reputasi atau hubungan sosialnya, misalnya mengucilkan dari kelompok atau mempermalukan di depan umum.

Cyberbullying: Perundungan yang dilakukan melalui media digital seperti media sosial, pesan teks, atau email.

Bullying seksual: Melibatkan perilaku bersifat seksual yang tidak diinginkan, baik fisik maupun verbal, yang membuat korban merasa tidak nyaman atau malu.

Beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang menjadi pelaku bullying antara lain:

Rasa tidak aman atau kurang empati: Pelaku mungkin merasa iri terhadap orang lain yang lebih populer atau sukses.

Keinginan untuk berkuasa: Dorongan untuk mendominasi dan mengendalikan orang lain.

Faktor lingkungan: Tumbuh di lingkungan yang menganggap kekerasan sebagai hal wajar.

Pengalaman masa lalu: Beberapa pelaku dulunya juga pernah menjadi korban perundungan.

Dampak bullying sangat luas, baik bagi korban, pelaku, maupun saksi.

Bagi korban: Dapat menimbulkan depresi, kecemasan, harga diri rendah, gangguan tidur, bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup.

Bagi pelaku: Berisiko terjerumus pada perilaku kriminal, penyalahgunaan zat, dan kesulitan menjalin hubungan sehat di masa depan.

Bagi saksi: Dapat merasa takut, bersalah, atau tidak aman.

Upaya pencegahan harus dilakukan bersama oleh orang tua, guru, dosen dan masyarakat.

Buka komunikasi dengan anak tentang apa yang mereka alami di sekolah atau dunia maya.

Ajarkan empati dan rasa hormat terhadap sesama.

Jadilah teladan dalam menghadapi konflik secara sehat.

Laporkan kasus bullying kepada pihak berwenang dan dukung korban.

Ceritakan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya, seperti orang tua, guru, atau konselor.

Tunjukkan ketegasan dan jangan menanggapi pelaku secara emosional.

Usahakan tidak sendirian bergabunglah dengan teman yang mendukung.

Simpan bukti untuk kasus cyberbullying, seperti tangkapan layar atau pesan.

Jangan hanya diam dukung korban dan bantu melaporkan kejadian.

Jadilah upstander, bukan penonton. Jika aman, berani meminta pelaku menghentikan tindakannya atau segera mencari bantuan.

Fenomena bullying kembali menjadi sorotan setelah kematian tragis Timothy, mahasiswa Universitas Udayana, yang diduga mengakhiri hidup akibat perundungan. Peristiwa ini memicu gelombang empati dan kemarahan di media sosial.

Beberapa komentar warganet menunjukkan betapa luasnya luka sosial akibat bullying:

“Pliss, kapan pembullyan ini hilang,” tulis akun @Serénaa.

“Aku juga punya abang berkebutuhan khusus. Pas lihat berita ini, aku langsung keinget abangku yang lagi di rumah. Tolong, stop bullying. Mau dia berkebutuhan khusus atau bukan, kita harus saling jaga tanpa pandang bulu. Sedih banget pas lihat beritanya. RIP Kak Timothy,” tulis @aca.

“Dulu aku juga nggak punya teman karena aku miskin. Kalau ada pembagian kelompok, mereka ogah-ogahan sama aku. Tapi Alhamdulillah, hari ini Allah kasih aku rezeki yang cukup,” komentar @Kiki.

“Ternyata di tingkat mahasiswa bullying tetap terjadi. Saya kira hanya di SD, SMP, atau SMA,” tulis @dipurahma1.

“Dulu anakku sering dibully di sekolah, tapi dia cerita ke aku. Aku sering datang ke sekolah dan berhadapan dengan murid-murid yang suka ngebully anakku. Anak-anak harus terbuka sama orang tua tentang apa yang mereka alami. Kadang aku rela nungguin anakku di sekolah sampai pulang, cuma untuk kasih semangat biar dia nggak takut,” tulis @titin_yulma.

Kasus-kasus seperti ini mengingatkan kita bahwa bullying bukan masalah sepele. Ia bisa menghancurkan rasa percaya diri, masa depan, bahkan nyawa seseorang. Karena itu, sudah seharusnya setiap dari kita ikut menjadi bagian dari solusi: saling menghargai, berani melapor, dan tidak membiarkan perundungan terus terjadi.

Reporter: Elvira turnip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Hubungi Tim Samudera, agar segera meliput!
Halo sobat Samudera....