Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kematian Khamenei menandai babak baru dalam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini meningkatkan ketegangan geopolitik dan memunculkan kekhawatiran akan meluasnya perang ke negara-negara sekitar.
Di tengah konflik, perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang berada di antara Iran dan Oman. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan Samudera Hindia, serta menjadi salah satu choke point (titik sempit strategis) paling vital dalam perdagangan minyak global.
Gangguan di Selat Hormuz berpotensi menghambat distribusi minyak dunia. Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) menyebutkan bahwa jika jalur tersebut terganggu, harga minyak mentah dunia dapat meroket hingga US$100–120 per barel.
“Perang artinya harga BBM berisiko naik,” tulis Celios melalui akun Instagram resminya, mengingat Indonesia masih sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.
Konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Dalam enam bulan terakhir, harga emas tercatat meningkat hingga 48,4 persen. Celios menilai kondisi ini berpotensi membuat investor dan kelompok berpenghasilan tinggi mengalihkan asetnya ke instrumen berisiko rendah seperti emas.
Dalam sistem ekonomi global yang terintegrasi, satu peristiwa di Timur Tengah dapat memicu efek domino di berbagai belahan dunia. Harga pangan di Asia berpotensi meningkat akibat biaya distribusi yang naik, inflasi di Eropa bisa terdorong lebih tinggi karena lonjakan energi, sementara pasar saham di Amerika Serikat berisiko mengalami volatilitas.
Situasi ini menunjukkan bahwa globalisasi bukan hanya mempercepat arus perdagangan dan investasi, tetapi juga mempercepat penyebaran risiko. Ketegangan geopolitik di satu kawasan dapat dengan cepat menjalar menjadi tekanan ekonomi global.
Jika eskalasi konflik terus berlanjut dan jalur energi utama dunia terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung dalam perang, tetapi juga oleh masyarakat global melalui kenaikan harga kebutuhan pokok dan ketidakstabilan ekonomi.
Reporter: Anisa
