Jakarta, Samuderausi.com
Gelombang ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi nasional memicu aksi demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen mahasiswa di sejumlah wilayah Indonesia. Mengusung narasi “Reformasi Jilid II”, gerakan yang dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) bersama sejumlah aliansi mahasiswa ini menyuarakan kritik terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, pelemahan nilai tukar rupiah, serta berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai memberatkan masyarakat.
Di Jakarta, aksi protes dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung dalam HMI Pustaka dengan menggelar demonstrasi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Mereka menyuarakan penolakan terhadap kenaikan harga BBM jenis Pertamax. Selain itu, BEM Universitas Indonesia (BEM UI) juga mengagendakan aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI pada Jumat (12/6).
Gelombang protes serupa juga terjadi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. BEM SI Wilayah Jawa Tengah diketahui telah menggelar demonstrasi di Kota Semarang pada awal Juni lalu. Sementara itu, Aliansi Mahasiswa UGM memilih melakukan aksi simbolik dengan menggantung boneka yang merepresentasikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah.
Menanggapi meningkatnya aksi demonstrasi tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau seluruh peserta aksi untuk tetap menjaga ketertiban. Ia meminta agar penyampaian aspirasi dilakukan secara damai dan tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku.
Meski istilah “Reformasi Jilid II” terus bergema di berbagai ruang diskusi publik, sejumlah pengamat menilai gerakan mahasiswa tahun 2026 memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan Reformasi 1998. Jika gerakan pada 1998 terbentuk melalui konsolidasi yang kuat, bertahap, dan berpusat pada tujuan politik yang relatif seragam, maka gerakan mahasiswa saat ini cenderung lebih cair dan tersebar.
Perkembangan teknologi informasi serta tingginya penggunaan media sosial telah menciptakan ekosistem digital yang mampu mempercepat mobilisasi massa secara horizontal. Kondisi tersebut membuat partisipasi masyarakat menjadi lebih mudah dan cepat. Namun, di sisi lain, pola gerakan semacam ini juga berpotensi menimbulkan fragmentasi karena tidak terpusat pada satu komando yang jelas.
Aksi-aksi yang berlangsung di Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta sejauh ini masih bergerak secara terpisah dengan isu dan strategi masing-masing. Fleksibilitas tersebut memang memungkinkan gerakan berkembang dengan cepat di berbagai daerah, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam menyatukan visi serta membangun agenda politik yang lebih solid dan terkoordinasi.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai apakah “Reformasi Jilid II” merupakan kelanjutan dari semangat Reformasi 1998 atau sekadar gema perlawanan yang terfragmentasi masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat.
Sumber: RanahRiau.com, Tempo.co
Reporter: Welpin
