Kota Pematangsiantar mencatat inflasi sebesar 0,47 persen secara bulanan (m
Kota Pematangsiantar mencatat inflasi sebesar 0,47 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 5,84 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menempatkan Pematangsiantar sebagai kota dengan inflasi tertinggi kedua di Sumatera Utara, setelah Kabupaten Deliserdang yang mencapai 6,81 persen.
Sebagai perbandingan, inflasi Provinsi Sumatera Utara pada bulan yang sama tercatat 0,65 persen (mtm) dan 5,32 persen (yoy), sedangkan inflasi nasional relatif lebih rendah, yakni 0,21 persen (mtm) dan 2,65 persen (yoy).
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setdako Pematangsiantar, Sari Dewi Rizkiyani Damanik, menjelaskan bahwa inflasi di Pematangsiantar dipicu oleh kenaikan harga beberapa komoditas, seperti cabai merah (0,50 persen), emas perhiasan (0,09 persen), dan cabai hijau (0,07 persen).
“Pada bulan September ini telah melewati periode waktu panen, khususnya di wilayah sentra produksi seperti Simalungun, Karo, dan Batubara. Kombinasi faktor cuaca, biaya produksi, dan ketidakseimbangan pasokan permintaan menjadi pemicu utama inflasi,” terang Sari. (Sumber: iSiantar)
Sementara itu, Kepala BPS Kota Pematangsiantar menyebut bahwa berkurangnya pasokan bawang merah dan cabai merah selama bulan Agustus turut mendorong kenaikan harga di pasar. “Kurangnya pasokan ini disebabkan oleh kemarau panjang yang melanda beberapa daerah sentra produksi seperti Karo, Simalungun, dan Jawa. Selain itu, kenaikan harga pakan juga membuat pasokan daging ayam ras berkurang,” jelasnya. (Sumber: BPS Kota Pematangsiantar)
Di sisi lain, Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga ketahanan pangan dengan memanfaatkan pekarangan rumah.
“Terbukti cabai merah tumbuh subur dan sudah bisa dipanen. Mari kita manfaatkan pekarangan untuk menanam berbagai tanaman pangan,” ujar Wesly saat memperingati Hari Pangan Sedunia di Lapangan Adam Malik, Kamis (16/10/2025). Menurutnya, langkah ini dapat membantu masyarakat mengurangi pengeluaran rumah tangga di tengah fluktuasi harga bahan pangan. (Sumber: Benteng Times, Waspada.co.id)
Reporter: Elvira & Anisa
