Aksi demonstrasi yang dilakukan aliansi mahasiswa se-Kota Pematangsiantar bersama masyarakat berlangsung ricuh pada Senin (1/9/2025). Massa bergerak dari Jalan Usi sekitar pukul 10.40 WIB menuju Jalan Adam Malik dan tiba di depan Polres Pematang Siantar sekitar pukul 12.02 WIB untuk menyampaikan aspirasi.
Dalam aksi tersebut, massa menyoroti persoalan sampah di kota, sekaligus menyuarakan kabar kematian Affan (20), seorang driver ojek online (ojol) yang meninggal dunia saat aksi di Jakarta. Suasana mulai memanas ketika beberapa peserta aksi mengeluarkan kata-kata tidak pantas yang menyinggung aparat kepolisian. Kondisi kian ricuh setelah terlihat provokator dan barisan massa terpecah menjadi dua kelompok.
Bahkan, sempat terlihat bendera bergambar One Piece dikibarkan di tengah aksi. Driver ojol juga turut menyampaikan aspirasi dengan berorasi, mengheningkan cipta untuk korban, serta menyatakan harapan agar aspirasi mereka diterima pihak kepolisian.
Setelah itu, massa bergerak ke kantor DPRD Pematang Siantar. Di lokasi, mahasiswa melanjutkan orasi dengan pembacaan puisi dan refleksi mengenai kisah Affan. Mereka menuntut agar kasus kematian rekannya diusut tuntas serta menyerukan kebebasan pers dengan meneriakkan “media dibungkam.”
Namun, situasi kembali memanas ketika massa meminta masuk ke kantor DPRD untuk berdiskusi. Polisi yang berjaga tidak mengizinkan, sehingga massa menuding aparat sebagai “pemukul rakyat” dan menyebut kemewahan gedung DPRD berasal dari uang rakyat.
Kericuhan tak terhindarkan. Massa berteriak agar pintu DPRD dibuka, sementara situasi semakin kacau dengan kedatangan provokator baru. Aksi berujung pada tindakan anarkis ketika massa mulai membakar ban di sekitar kantor DPRD.
Meski demikian, menjelang sore massa akhirnya membubarkan diri dan kembali dengan damai setelah menyampaikan seluruh aspirasi mereka dan sudah di tanda tangani wali kota dan anggota DPRD.
Reporter: Elvira Turnip
